TERJEMAHAN

MENU TANBAHAN

ARSIP BLOG

PENGIKUT

Pengunjung

PESAN

Diberdayakan oleh Blogger.
Selasa, 27 Maret 2018

Pagiku tak Beruntung
(Cerpen Naja Maharani Prajna Paramyta dan Susiyanti)

Entah mengapa baru kali ini aku bangun sampai sesiang ini. Aku tatap jam dinding dikamarku telah menunjukkan pukul 06.30 tanpa basa-basi langsung aku lempar selimutku sambil berteriak keras.
“ Bu, aku kok tidak dibangunin? ” tanyaku dengan nada menyalahkan ibu, namun ibu tidak menjawab karena sibuk menyiapkan sarapanku.
            Aku usahakan mandi secepatnya hingga lupa menyikat gigiku. Aku langsung menuju kamarku dan memakai seragam sekolah.
            “ Ibu, antarkan aku sekarang juga! ” kataku memaksa.
            “ Ayahmu masih keluar, Nak. Tunggu sebentar lagi dia datang, ” kata ibu.
            “ Tidak, Bu. Aku tidak mau menunggu ayah. Aku sudah telat ayo antarkan aku sekarang! ” kataku sambil menarik lengan ibu memaksa. Ibu bergegas mengambil kerudungnya lalu mulai menyalakan sepeda motor. Tak berapa lama mesin motor dihangatkan aku langsung meminta ibu untuk berangkat.
@@@
Hari ini aku benar-benar kesal, tak pernah kubayangkan bahwa aku akan datang telat ke sekolah. Di jalan terus saja aku memaksa ibu untuk mempercepat laju motorku itu. Tiba-tiba di tengah perjalanan, jalan terhadang oleh kayu yang cukup besar dan terdapat tulisan juga di atasnya bahwa sedang ada perbaikan jalan. Dan pada saat itu pula ibu langsung mengerem mendadak, oleh karena itu kepalaku terbentur punggung ibu tanpa sengaja.
            “ Aduh ….. Kok ngerem mendadak, Bu? ” tanyaku pada ibu sambil mengusap kepalaku yang sakit karena benturan tadi.
            “ Nak, di depan ada perbaikan jalan , ” kata ibu padaku.
            “ Loh kok ada perbaikan jalan sih…., kemarin kan baik-baik saja. Mau lewat mana sekarang , Bu? ” tanyaku pada ibu dengan frustasi. Bagaimana tidak frustasi, sekarang aku sudah telat dan malah ditambah lagi jalan yang biasa kulewati setiap hari sedang ada perbaikan. Ingin menangis saja rasanya, akan tetapi menangis tak ada gunanya. Aku akan tetap telat dan akan tetap dimarahi sesampainya di kelas nanti.
“ Kita balik saja dulu, Nak. Kita lewat Dasuk saja, ” kata ibu menenangkanku yang sudah tampak gusar.
“ Aduh Bu … Kan jauh kalau lewat sana, bisa semakin terlambat aku, ” kataku pada ibu.
Aku benar-benar tidak sabar, aku sangat kesal. Mana mungkin ada perbaikan jalan hari ini, tidak bisakah besok saja perbaikan jalannya. Akhirnya dari pada lebih terlambat lagi aku menuruti apa kata ibu.
            “ Ya sudah …, lewat sana saja, Bu, ”kataku pada ibu dengan lirih
            Setelah perjalanan ke sekolah terasa begitu lama, aku akhirnya sampai di sekolah. Dan ah…. Aku baru ingat bahwa pelajaran pertama hari ini adalah Bhs. Indonesia. Langsung saja kuraih tangan ibu untuk bersalim, lalu pamit sambil berlari masuk.
            “ Ibu, aku masuk dulu. Assalamualaikum. ” pamitku pada ibu.
            “ Waalaikumsalam. Hati-hati, Nak. ” jawab ibu yang tak begitu jelas ku dengar karena jara yang sudah cukup jauh.
Sesampainya di depan kelas, aku hampir saja menerobos masuk karena berlari cukup cepat. Untung saja masih sempat untuk berhenti. Di dalam kelas tampak teman-teman masih menyanyikan lagu wajib.
@@@
Sambil menunggu teman-teman selesai bernyanyi, aku berdiri di luar kelas dengan sangat gugup. Keringat dingin menetes di keningku. Tiba-tiba teman sekelasku sudah selesai menyanyikan lagu wajib yang terkesan sangat singkat untukku. Jantungku mulai berdegup kencang. Kulangkahkan kakiku masuk ke kelas dengan perasaan bercampur aduk. Antara takut, gugup, dan malu karena datang terlambat.
            “ Assalamualaikum.” Ucapku sambil masuk dengan takut-takut.
            “ waalaikumsalam. ” jawab Bapak Jamad guru Bhs. Indonesiaku dan teman-teman serentak.
Kudengar teman-teman tertawa kecil dan kupikir mereka menertawakanku karena terlambat. Hal itu membuatku bertambah malu. Tiba-tiba lamunanku buyar setelah mendengar suara Bapak Jamad.
            “ Kamu kenapa terlambat, Naja ? ” Tanya Bapak Jamad padaku.
            “ Maaf pak, saya bangun kesiangan, ” jawabku dengan suara yang agak bergetar.
            “ Kenapa bisa bangun kesiangan, tidur pukul berapa kamu tadi malam? ” Tanya Bapak Jamad lagi.
            “ Seperti biasa pukul sembilan saya sudah tidur, Pak. ” jawabku.
            “ Ya,sudah jangan diulangi lagi …. Silakan duduk! ” kata Bapak Jamad.
Betapa senangnya aku ketika Bapak Jamad langsung menyuruhku duduk tanpa memberiku hukuman. Namun aku merasa masih ada yang ganjal, karena setelah dudukpun teman-teman masih terdengar tertawa kecil dan berbisik-bisik sambil melirikku. Aku merasa bingung, entah apa yang mereka tertawakan karena kurasa tak ada yang lucu. Kemudian Susi teman sebangkuku memberitahuku sambil berbisik pelan.
            “ Naja, mereka menertawakanmu karena seragam yang kamu gunakan hari ini salah. ” kata Susi mengingatkanku
Langsung saja kulihat bajuku dan benar saja seragam yang kugunakan  salah. Spontan saja kelasku menjadi riuh, teman-teman menyorakiku. Aku jadi salah tingkah dan malu. Betapa sialnya aku hari ini. Dan ini semua terjadi karena kesalahanku bangun kesiangan.                                        

0 komentar: