TERJEMAHAN

MENU TANBAHAN

ARSIP BLOG

PENGIKUT

Pengunjung

PESAN

Diberdayakan oleh Blogger.
Minggu, 09 Agustus 2015

Materi Pembelajaran Bahasa Indonesia Kelas IX KTSP

Materi Pembelajaran Bahasa Indonesia Kelas IX KTSP lengkap disusun berdasarkan urutan KD di silabus



SEMESTER 1
Pengertian fakta dan opini
1. Menyimpulkan Dialog Interaktif
Dalam kehidupan sehari-hari sering kita terlibat dalam suatu percakapan. Percakapan terjadi karena ada masalah yang dibahas, di situlah kita dapat menyampaikan pendapat, gagasan, atau pengalaman. Suatu dialog dapat dipahami dengan jelas apabila terdapat kejelasan ucapan dalam dialog, sikap-sikap pendukung pada waktu berdialog, dan terdapat kejelasan isi yang dibahas.
Dialog interaktif adalah bentuk dialog yang ditayangkan langsung antara 2 orang dan membicarakan suatu topik tertentu dan dapat didengarkan oleh audiens. Dialog interaktif sering ditemukan dalam acara-acara televisi, radio dan media online.
Bahasa dalam dialog/percakapan harus disesuaikan dengan situasi. Jika situasi dialog resmi, menggunakan bahasa baku. Jika situasi tidak resmi, menggunakan bahasa nonbaku.
Dialog adalah percakapan antara dua orang atau lebih. Mendengarkan dialog merupakan kegiatan menyimak yang memerlukan konsentrasi untuk memperoleh informasi dan untuk memahaminya. Radio dan televisi merupakan media elektronik yang dapat menjadi sumber berita dan informasi. Di media tersebut, kita dapat mendengar atau melihat acara dialog. Dengan mendengarkan dialog antartokoh, kita akan dapat memahami pandangan setiap tokoh terhadap suatu masalah. Setelah mendengarkan dialog, kita harus mampu menyimpulkan isinya dan memahami informasi yang terdapat dalam dialog tersebut.
Dialog interaktif adalah dialog yang dilakukan di televisi atau radio yang dapat melibatkan pemirsa dan pendengar melalui telepon.
Tutuplah buku pelajaranmu, dengarkan dialog yang akan dibacakan oleh temanmu atau rekaman berikut!
Ade           : Apa yang dimaksud dengan gas metana?
Hery          : Istilah lain dari gas metana adalah gas rawa. Istilah itu diambil karena rawa banyak mengandung gas metana. Coba saja kita tancapkan bambu di rawa. Kalau disulut api, bambu pasti meledak, semacam ledakan kecil. Ledakan terjadi melalui pembusukan dari dalam bambu tersebut sehingga membentuk gas metana yang menyemburkan api.
Ade           : Apakah biogas juga banyak mengandung gas metana?
Hery          : Ya. Gas metana terkandung dalam biogas, yakni melalui pembusukan dibantu dengan unsur mikroba atau bakteri yang mempercepat pembentukan gas tersebut. Gas metana berasal dari hasil limbah peternakan dan pertanian.
Ade           : Bagaimana cara mengembangkannya?
Hery          : Suatu area peternakan dan pertanian luas dapat digunakan sebagai sumber energi biogas alternatif. Caranya, kotoran dan limbah pertanian ditampung dalam tangki tertutup yang bentuknya seperti lonceng terbalik. Melalui proses itu, akan dihasilkan gas metana yang dapat mengeluarkan energi untuk kebutuhan pemanasan.
Ade           : Apa keuntungan penggunaan biogas sebagai energi alternatif?
Hery          : Energi alternatif yang dihasilkan tergolong energi terbaru. Energi itu tidak merusak lingkungan sehingga kita tidak bergantung pada energi dari fosil bumi atau minyak bumi. Energi tersebut juga tidak memberikan dampak buruk terhadap lingkungan, seperti polusi atau pencemaran.
Ade           : Apakah biogas dapat dimanfaatkan menjadi energi gerak atau listrik?
Hery          : Hal itu sangat dimungkinkan sebab gas metana yang dihasilkan dapat membakar dan menjadi energi gerak berupa energi listrik. Tentu saja perlu ada instalasi tambahan. Misalnya, dibuatkan turbin atau peralatan lain untuk menghasilkan energi listrik. Dari turbin itu, dihasilkan energi listrik. Kemudian, energi tersebut disimpan.
Ade           : Dari segi biaya apakah relatif murah?
Hery          : Saya kira penggunaan dan pembuatan biogas untuk kebutuhan sehari-hari secara ekonomi masih terjangkau. Dananya relatif murah dengan catatan tersedia banyak bahan baku biogas. Semakin banyak sumber alam, produksi energi biogas yang dihasilkan juga semakin banyak. Tentu, hal itu akan lebih hemat biaya karena energi listrik dari biogas tidak memerlukan kabel untuk memasok listrik.
  1. Tuliskan  hal-hal  penting  yang  disampaikan  oleh  narasumber  dengan menggunakan format di bawah ini.
 Baca selengkapnya berikut ini!
L

Narasumber
Hal Penting Isi Pembicaraan
Hery
1.    Gas metana banyak terdapat di rawa-rawa.
……………………………………………………………………
……………………………………………………………………
……………………………………………………………………
……………………………………………………………………
……………………………………………………………………
……………………………………………………………………
……………………………………………………………………
  1. Berdasar pada catatan tentang hal-hal penting tersebut, buatlah simpulan isi dialog dalam beberapa kalimat:
Simpulan isi dialog:
  1. …………………………………………………………………………………………
  2. …………………………………………………………………………………………
  3. …………………………………………………………………………………………
  4. …………………………………………………………………………………………
  5. …………………………………………………………………………………………
  1. Saling tukarkan hasil pekerjaanmu dan berikan penilaian simpulan yang dibuat oleh temanmu dengan menggunakan format penilaian berikut ini.
Format Penilaian Menyimpulkan Isi Dialog
Nama Siswa    :
Kelas               :
No.
Aspek/Indikator
1
2
3
4
5
Skor
1.
2.
3.
4.
Kesesuaian dengan isiPenalaran
Struktur kalimat
Ejaan dan tanda baca






Tugas
Dengarkan dialog interaktif yang disiarkan oleh sebuah stasiun radio atau yang ditayangkan di televisi, kemudian kerjakan tugas-tugas berikut ini!
  1. Tulislah stasiun radio atau stasiun televisi yang menayangkan dialog tersebut!
  2. Tulislah waktu penayangan (jam, hari, tanggal)!
  3. Sebutkan para narasumber dan reporternya!
  4. Tulislah hal-hal penting yang dikemukakan narasumber!
  5. Buatlah simpulan isi dialog tersebut!
6.      Menyimpulkan Isi Dialog Interaktif
Informasi dapat kalian peroleh melalui berbagai cara, baik secara lisan maupun tulisan. Salah satu cara yang dapat kalian lakukan untuk mendapatkan informasi secara lisan yaitu melalui kegiatan menyimak dialog interaktif. Dialog interaktif adalah percakapan yang dilakukan di televisi atau radio yang dapat melibatkan pemirsa dan pendengar melalui telepon. Ada pun narasumber yang dipilih adalah orang tahu yang persis tentang informasi
yang ingin disampaikan. Selain itu, kalian juga dapat memperoleh informasi dengan bertindak sebagai pihak yang pasif, yaitu mendengarkan dengan saksama suatu kegiatan dialog interaktif yang dilakukan oleh orang lain. Dari kegiatan mendengarkan tersebut kalian dapat mencatat hal-hal penting dan menyimpulkan
isi dialog yang kalian dengarkan itu. Sama halnya
dengan berita, dalam dialog interaktif kalian juga
harus menerapkan prinsip 5W+1H berikut ini.
what : apa yang didialogkan
who : siapa yang berdialog
when : kapan dialog dilakukan
where: di mana dialog dilakukan
why : mengapa dialog dilakukan
how : bagaimana hasil dialog tersebut

2. 1 Memuji dan Mengkritik Karya Seni

           Kritik adalah masalah penganalisaan dan pengevaluasian sesuatu dengan tujuan untuk meningkatkan pemahaman, memperluas apresiasi, atau membantu memperbaiki pekerjaan.
Secara etimologis berasal dari
bahasa Yunani κριτικός, kritikós - "yang membedakan", kata ini sendiri diturunkan dari bahasa Yunani Kuna κριτής, krités, artinya "orang yang memberikan pendapat beralasan atau "analisis", "pertimbangan nilai", "interpretasi", atau "pengamatan". Istilah ini biasa dipergunakan untuk menggambarkan seorang pengikut posisi yang berselisih dengan atau menentang objek kritikan.
Kritikus modern mencakup kaum profesi atau amatir yang secara teratur memberikan pendapat atau menginterpretasikan seni pentas atau karya lain (seperti karya seniman, ilmuwan, musisi atau aktor) dan, biasanya, menerbitkan pengamatan mereka, sering di jurnal ilmiah. Kaum kritikus banyak jumlahnya di berbagai bidang, termasuk kritikus seni, musik, film, teater atau sandiwara, rumah makan dan penerbitan ilmiah.
          Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, kritik adalah kecaman atau tanggapan, kadang-kadang disertai uraian dan pertimbangan baik buruk terhadap suatu hasil karya,pendapat dan sebagainya.
Berdasarkan pengertian di atas kritik merupakan catatan penilaian atau tanggapan terhadap suatu karya. Kritik harus dibedakan dengan mengecam, mencaci dan menjelek-jelekkan, ingat pengertian dasar kritik adalah menilai.Menilai harus obyektif.Tujuan akhir kritik adalah agar pencipta karya atau produk dapat meningkatkan mutu karyanya dikemudian hari.

Kritik Membangun
         Kritik disampaikan agar orang yang dikritik dapat mengubah perilaku atau menciptakan karya yang lebih baik
Kritik membangun yang santun adalah kritik yang disampaikan bukan untuk menyerang orang, melainkan untuk menilai suatu karya.Sekali lagi yang dinilai adalah karya bukan penciptanya. Gunakan bahasa yang tidak menyakitkan hati (kasar), tetapi tetap terkesan lugas, tegas, dan santun.
Cara Mengkritik Suatu Karya
Cara mengkritik suatu karya adalah dengan langkah-langkah sebagai berikut :
1.      Sebelum memberi kritik kita harus memiliki pengetahuan yang cukup tentang sesuatu yang akan kita kritik.Sebagai contoh apabila kita akan mengkritik cerpen, kita harus mengetahui pengetahuan luas tentang cerpen.
  1. Sebelum mengkritik pelajari dahulu dengan cermat karya yang akan dikritik pahami segala istilah yang terdapat dalam karya. Baca juga bahan rujukan karya tersebut.
  2. Setelah itu buatlah catatan yang obyektif tentang kelebihan dan kekurangan karya yang akan dikritik. Contoh catat bagaimana tema, alur, penokohan, latar atau bahasa yang ada da;lam cerpen.
  3. Sebelum kritik disampaikan pikirkan kembali “Bagaimanakah perasaan saya jika dikritik semacam itu ?”
  4. Saat menyampaikan kritik melalui lisan atau tulisan perhatikan penggunaan bahasa. Gunakan bahasa yang tidak menyerang orang dan yang tidak menyakitkan hati. Beri penilaian yang jujur dan obyektif,tetapi tetap santun.Kritik harus mempunyai alasan yang masuk akal atau logis, jadi tidak asal mengkritik.

Contoh kalimat kritik :
Kalimat dalam cerpen tersebut berpola sederhana, sehingga cerepen ini cocok sebagai bacaan untuk siswa sekolah dasar.

Majalah dinding sekolah kita mempunyai kekuatan dalam hal jenis karya yang ditampilkan.
Dengan sedikit perubahan penataan tampilan, saya yakin majalah dinding kita layak untuk mengkuti lomba.

Sumber : http://id.shvoong.com/humanities/theory-criticism/2347683-pengertian-kritik-dan-cara-mengkritik/

2.2 Melaporkan sebuah Peristiwa
Contoh laporan peristiwa
Tabrak Motor, Truk Rumput Laut Terbalik  

Kecelakaan lalu lintas kembali terjadi di jalan raya Desa Lomaer, Kecamatan Blega, kemarin (14/3). Sebuah truk Mitsubishi bermuatan rumput laut menabrak sepeda motor Honda Supra nopol M 6841 GY. Akibat kecelakaan itu, truk bernopol M 8227 UG tergelincir ke sawah kemudian terbalik. Sementara sepeda motor langsung terpental beberapa meter dari tempat kejadian.    
            Tidak ada korban jiwa dalam kecelakaan tersebut. Sopir truk, Ainul Yakin, 25, warga Desa Banasare, Kecamatan Rubaru, Sumenep, hanya mengalami luka ringan. Sementara Abdul Fatah, pengendara Honda, warga Desa Karang Gayam, Kecamatan Blega, mengalami luka parah. Diduga kuat kecelakaan itu terjadi akibat sopir truk mengantuk saat berkendara. Karena itu, truk yang dikemudikan lepas kendali hingga menabrak motor dari arah berlawanan. Kecelakaan bermula saat truk Mitsubishi melaju dari arah timur dengan kecepatan tinggi. Setiba di lokasi kejadian, truk ke arah kanan jalan, sedangkan dari arah berlawanan muncul sepeda motor. Sopir truk yang dalam keadaan mengantuk, kaget dan kehilangan konsentrasi. Akibatnya, kecelakaan pun tak bisa dihindari. ”Pengakuan sopir truk, kejadiannya sekitar pukul 05.00. Dia juga mengakui kalau dirinya saat itu mengantuk,  terang Kanitlaka Aipda Puji Purnomo mewakili Kasatlantas Polres Bangkalan AKP Yusis Budi K. kepada Jawa Pos Radar Madura. Dia menambahkan, dalam kecelakaan itu tidak ada korban jiwa. Sopir truk kondisinya baik-baik saja. Hanya saja, truk mengalami rusak berat, sedangkan kerugian yang ditimbulkan dari kejadian tersebut ditaksir mencapai puluhan juta. Sementara pengendara sepeda motor harus dilarikan ke RSUD Syamrabu Bangkalan karena mengalami luka parah. Untuk kepentingan penyidikan lebih lanjut, dua kendaraan yang terlibat kecelakaan diamankan di Polres Bangkalan. ”Sopir truk juga sudah kami amankan untuk dimintai keterangannya,” pungkasnya. (radar)
3.1 Membedakan antara Fakta dan Opini
Fakta (bahasa latin : Factus) adalah hal atau peristiwa yang benar-benar ada atau terjadi dan bisa dibuktikan kebenarannya. Informasi yang didengar dapat disebut fakta apabila informasi itu merupakan peristiwa yang berupa kenyataan yang benar-benar ada dan terjadi.

Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia: fakta adalah hal (keadaan, peristiwa) yang merupakan kenyataan; sesuatu yang benar – benar ada atau terjadi.

Kalimat yang berisi ada pelaku, tempat kejadian, waktu, jumlah, bagaimana kejadian/peristiwa tersebut terjadi, atau ada rincian yang jelas, serta tidak bisa dibantah kebenarannya, maka kalimat tersebut berupa kalimat fakta.

Jenis-Jenis Fakta
1.      Fakta Umum - Kebenaran yang berlaku epanjang zaman. contohnya Matahari terbenam di barat dan terbit di timur.
  1. Fakta Khusus - Kebenaran yang berlaku pada satu atau beberapa waktu tertentu. contohnya Aldi membaca buku.
Ciri-Ciri Kalimat Fakta
1.      Dapat dibuktikan kebenarannya.
  1. Memiliki data yang akurat misalnya tanggal, tempat ,waktu kejadian.
  2. Memiliki narasumber yang dapat dipercaya.
  3. Bersifat obyektif (apa adanya dan tidak dibuat-buat) yang dilengkapi dengan data berupa keterangan atau angka yang menggambarkan keadaan.
  4. Sudah dipastikan kebenaranya.
  5. Biasanya dapat menjawab pertanyaan: apa, siapa, di mana, kapan, berapa dengan jawaban yang pasti.
  6. Menunjukkan peristiwa telah terjadi.
  7. Kenyataan.
  8. Informasi dari kejadian yang sebenarnya.
  9. Kalimat fakta adalah kalimat yg mengedepankan fakta nyata dan hasil temuan, dan sering kali menggunakan kutipan dari berbagai sumber sebagai penguat argumen, misalnya “berdasarkan tulisan Leonardo Da Vinci…”, “mengutip kata Shakespeare…”, “menurut hasil survey yang dilakukan oleh BSI…”, dll.
  10. Kalimat fakta itu kejadiannya sudah terjadi dan pasti dan biasanya disertai dengan waktu kejadian. misalnya seperti “kebakaran yang terjadi di tanah abang senin kemarin telah memakan 8 orang korban jiwa”
Fakta dapat juga dapat berupa:
Kuantitatif: Pada tahun ajaran 2013-2014 Mts Ulul Albab mendapatkan murid baru sebanyak 120 siswa. Angka ini lebih tinggi dibanding penerimaan pada tahun sebelumnya yang hanya mencapai angka 100 siswa saja.
Kuantitatif: Hujan deras yang mengguyur kawasan Kecamatan Bangun Rejo pada malam hari tadi menyebabkan sejumlah desa terendam banjir.
Contoh-contoh Kalimat Fakta
1.      Penduduk Indonesia mayoritas beragama islam
  1. Ir. Soekarno adalah presiden pertama Indonesia
  2. Denpasar adalah ibukota Bali
  3. Gunung Merapi sudah meletus lebih dari satu kali
  4. Matahari terbenam di barat dan terbit di timur
  5. 1 jam terdiri dari 60 menit
  6. Indonesia adalah negara kepulauan
  7. Air akan selalu mengikuti bentuk ruang yang di tempatinya
Opini adalah lawan kata fakta. Kalimat opini merupakan kalimat hasil tanggapan, gagasan, atau perkiraan orang, baik dari individu maupun kelompok.

Jenis-Jenis Opini
1.      Opini perorangan, contohnya : Lari sejauh 100 meter sudah melelahkan.
  1. Opini umum, contohnya : Makan yang berlebihan dapat mengakibatkan kegemukan.
Kata-kata yang menunjukkan kalimat opini antara lain:
a.       Tidak atau belum pasti.: barangkali, mungkin, nampaknya, bisa jadi,sepertinya, boleh jadi, kira-kira, atau diperkirakan.
  1. Mengandai-andai : andaikan, seandainya, kalau, jika, jikalau, jika saja, bilamana,  bila, asal, atau asalkan.
  2. Bersifat saran, nasihat, atau usulan: sebaiknya, alangkah baiknya, seharusnya, sesungguhnya, atau sebenarnya.
  3. Menyatakan hubungan sebab akibat.
Ciri-Ciri Kalimat Opini
1.      Tidak dapat dibuktikan kebenaranya.
  1. Bersifat subyektif dan dilengkapi uraian tentang pendapat, saran, atau ramalan tentang sebab dan akibat terjadinya peristiwa.
  2. Tidak terdapat narasumber/atas pemikiran sendiri.
  3. Tidak memiliki data yang akurat.
  4. Berisi tanggapan terhadap peristiwa yang terjadi, berisi jawaban atas pertanyaan: mengapa, bagaimana, atau lalau apa.
  5. Menunjukkan peristiwa yang belum atau akan tejadi pada masa yang akan datang (baru berupa rencana).
  6. Kalimat opini itu belum pasti kejadiannya.dan biasanya diawali dengan kata kata seperti “menurut saya”, “sepertinya”, “saya rasa”.
  7. Pendapat atau argumen seseorang.
  8. Informasi yang belum dibuktikan kebenarannya.
  9. Biasanya menggunakan kata-kata: bisa jadi, menurut, sangat, tidak mungkin, sebaiknya, atau seharusnya.
Contoh-contoh Kalimat Opini
1.      Lari sejauh 100 meter sudah melelahkan
  1. Makanan itu akan terasa lebih nikmat jika ditambah sedikit gula
  2. Ruangan kelas itu sangat sempit
  3. Tidak keramas selama 1 hari menyebabkan kepala gatal
  4. Bogor adalah kota paling indah di Indonesia
  5. Orang yang gemuk itu artinya hidupnya tenang
  6. Jika aku hidup di Amerika pasti lebih menyenangkan
  7. Jika indonesia dipimpin pemuda pasti lebih baik
Perbedaan Fakta dan Opini
Dari contoh - contoh kalimat di atas dapat diketahui perbedaan antara kalimat opini dan kalimat fakta antara lain :

Fakta:
·         Kebenarannya bersifat objektif
  • Merupakan kenyataan yang sebenarnya terjadi
  • Terdapat data yang akurat sebagai pendukung
Opini:
·         Kebenarannya bersifat subyektif
  • Menunjukkan peristiwa yang belum terjadi
  • Tidak adanya data pendukung
4.2 Meresensi Buku Pengetahuan
Contoh Resensi Buku
Resensi berasal dari bahasa Belanda resentie dan bahasa Latin recensio, recensere atau juga revidere yang artinya mengulas kembali. Resensi adalah suatu penilaian terhadap sebuah karya. Karya yang dinilai dapat berupa buku dan karya seni film dan drama. Menulis resensi terdiri atas :  kelebihan, kekurangan dan informasi yang diperoleh dari buku dan disampaikan kepada masyarakat.

 

Manfaat Resensi

1. Bahan pertimbangan
Memberikan gambaran kepada para pembaca tentang suatu karya dan mempengaruhi mereka atas karya tersebut.

2. Nilai ekonomis
Mendapatkan uang atau imbalan serta buku-buku yang diresensikan secara gratis dari penerbit buku apabila resensinya dimuat di koran atau majalah.[1]

3. Sarana promosi buku
Buku yang diresensikan adalah buku baru yang belum pernah diresensi.[1] Dengan demikian, resensi merupakan media untuk mempromosikan buku baru tersebut.[1]

4. Pengembangan Kreativitas
Semakin sering menulis, maka semakin terasah kebiasaan menulis untuk setiap individu.[1] Hal ini dilakukan untuk mengembangkan kreativitas menulis.[1]

Contoh Resensi Buku 1

Contoh Resensi Buku
1.Identitas buku
Judul buku                  : Hujan Kepagian
Pengarang                   : Nugroho Notosusanto
Penerbit                       : Balai Pustaka
Tahun Terbit                : 2011
Jumlah Halaman                      : vi+62 halaman

2. Pembuka Resensi
Kumpulan cerpen Hujan Kepagian terdiri atas 6 buah cerita. Cerpen tersebut mengisahkan tentang kesaksian tentang revolusi kemerdekaan. Perlu diketahui bahwa tidak banyak karya sastra menampilkan kisah-kisah di revolusi, yang kisahnya dialami sendiri oleh pengarangnya. Perang yang diceritakan dalam cerpen tidak hanya dilihat dari sudut peristiwa yang berkaitan dengan tindakan-tindakan serba heroik para pelakunya. Dalam buku Hujan Kepagian ini juga bisa dilihat banyak sisi yang lebih manusiawi. Pengarangnya sendiri juga terlibat langsung dalam perjuangan kemerdekaan saat menjadi anggota tentara pelajar.

3.Jenis Buku
           Pada buku Hujan Kepagian merupakan cerita nonfiksi karena pengarang mengisahkan kesaksian tentang revolusi kemerdekaan yang telah dialami oleh pengarang itu sendiri.
4.Keunggulan Isi Buku
·     Organisasi Buku :
Pengalaman-pengalaman selama revolusi ini sangat menarik. Dalam buku ini antara satu  peristiwa dengan peristiwa lainnya terdapat keterkaitan sehingga mampu menarik pembaca.
·     Isi Buku :
Dilihat dari isinya ceritanya sangat unik, menarik sehingga layak untuk dibaca.
·     Bahasa :
Dilihat dari segi bahasa yang digunakan pengarang sederhana, akan tetapi memikat. Kalimat- kalimat dalam paragraf disusun secara runtut sehingga mudah dipahami.

5. Kelemahan Isi Buku
     Kelemahan buku ini adalah kebiasaan pengarang menggunakan beberapa kosakata Belanda,sehingga pembaca kurang memahami arti kata tersebut.
6. Nilai Buku
Hal yang perlu kita petik dari buku kumpulan cerpen ini adalah hendaklah kita berjuang dengan hati yang suci dan tulus. Kita berjuang dengan hati yang tulus untuk mempertahankan kehidupan bernegara dan berbangsa Indonesia.
Kesimpulan : Buku kumpulan cerpen “Hujan Kepagian” ini cukup menarik, karena buku ini menceritakan kesaksian tentang revolusi kemerdekaan. Dan hanya sedikit karya sastra yang menampilkan kisah-kisah di sekitar revolusi yang dialami oleh si pengarang. Selain itu,  buku ini juga memilliki amanat yang mengajak kita generasi muda untuk tetap berjuang mempertahankan kemerdekaan bangsa ini dan selalu berbuat baik.




Contoh Resensi Buku 2

Contoh Resensi Buku
1. Identitas Buku
Judul                : Sang Pemimpi
Penulis                         : Andrea Hirata
Penerbit           : PT Bentang Pustaka
Halaman          : x + 292 Halaman
Cetakan           : ke-14, januari 2008
ISBN                : 979-3062-92-4

2. Pratinjau
Buku ini dapat dikatakan buku yang luar biasa hasil karya Andrea Hirata seorang penulis buku ternama. Hal yang luar biasa bisa kita lihat dari penyampaian alur cerita dan juga gaya bahasa yang ditulis dengan sangat baik. Gaya bahasa ini mampu dikemas sangat baik dari awal hingga akhir cerita. Jika ditinjau dari unsur intrinsiknya bisa dibilang novel ini tanpa celah. Di setiap peristiwa dalam buku ini Andrea dapat menggambarkan karakteristik dan juga deskripsi yang sangat kuat pada setiap karrakter yang ada. Bahasa yang digunakan dalam buku ini pun sangat menarik, dengan dibumbui ragam kekayaan bahasa dan imajinasi yang sangat luas. Novel ini menunjukkan kekayaan bahasa sekaligus juga keteraturan berbahasa Indonesia. Dimulai dari istilah- istilah yang saintifik, humor metaforis, hingga dialek dan sastra melayu bertebaran di sepanjang halaman buku novel ini. Mulanya, cerita ini lebih bernuansa komikal dengan latar kenakalan remaja . Canda tawa khas siswa SMA sangat kental dalam novel ini. Namun jika lebih dalam menjelajahi setiap makna kata akan terasa betapa kuat karakter yang muncul di tiap-tiap tokohnya. Terlebih ketika Andrea membawa kita ke dalam kenyataan hidup yang harus dihadapi tokoh Ikal yang mimpinya seakan sudah mencapai titik kemustahilan, dan dengan sensasi filosofis Andrea berhasil kembali membangkitkan obor semangat meraih mimpi dan menekankan begitu besarnya kekuatan mimpi Ikal yang akhirnya dapat berhasil mengantarkannya ke Sorbonne, kota impiannya.

           Tidak hanya bicara masalah mimpi novel ini Andrea juga mencitrakan kebijaksanaan seorang ayah yang luar biasa. Walaupun dalam keterbatasan sang ayah terus menerus mendukung mimpi anaknya. Keadaan ini membuat cerita dalam buku novel ini semakin seru dan juga mengharukan. Seorang ayah yang sangat sabar dan juga anaknya yang sangat menghormati ayahnya menjad penyempurna dalam buku novel ini membuat novel ini sangat layak untuk dibaca dan kaya akan pesan pesan moral
3. Kelebihan dan Kelemahan
1) Kelebihan
         Kelabihan dari novel ini bisa dilihat dari dari segi kekayaan bahasa dan kekuatan alur yang mengajak pembaca masuk dalam cerita hingga merasakan tiap latar yang terdeskripsikan secara sempurna. Hal ini tak lepas dari kecerdasan Andrea memainkan imajinasi berfikir yang dituangkan dengan bahasa-bahasa intelektual yang sangat berkelas. Andrea juga menjelaskan tiap detail latar yang mem-background-i adegan demi adegan yang ada, sehingga pembaca akan selalu menantikan dan menerka-nerka setiap hal yang akan terjadi. Selain itu, kelebihan daripada novel ini yaitu kepandaian Andrea dalam mengeksplorasi karakter-karakter sehingga kesuksesan pembawaan yang melekat dalam karakter tersebut begitu kuat.
2) Kelemahan
          Pada dasarnya novel ini hampir tidak punya kelemahan. Hal ini disebabkan karena penulis dengan cerdas dan apik menggambarkan keruntutan alur, deskripsi setting, dan eksplorasi kekuatan karakter. Baik jika ditinjau dari segi kebahasaan hingga sensasi yang dirasakan pembaca sepanjang cerita, novel ini dinilai cukup untuk mengobati keinginan pembaca yang haus akan novel yang bermutu.
4. Nilai Buku
Nilai Moral
         Nilai moral yang terdapat pada novel ini terasa sangat kental. Sifat-sifat yang ditunjukkan tiap karakter menunjukkan rasa humanis yang tinggi dalam diri seorang remaja dalam menyikapi kerasnya kehidupan ini. 
Nilai Sosial
         Nilai sosial dalam novel ini sangat menonjol. Hal itu dibuktikan rasa setia kawan yang begitu tinggi antara tokoh Ikal, Arai, dan Jimbron. Masing-masing saling mendukung dan membantu antara satu dengan yang lain dalam mewujudkan impian-impian mereka sekalipun hampir mencapai batas kemustahilan. Dengan didasari rasa gotong royong yang tinggi sebagai orang Belitong, dalam keadaan kekurangan pun masih dapat saling membantu satu sama lain.
Nilai Adat istiadat
          Nilai adat di sini juga terasa sangat kental terasa. Adat kebiasaan sekolah tradisional yang masih mengharuskan siswanya mencium tangan kepada gurunya, ataupun mata pencaharian warga yang sangat keras dan kasar yaitu sebagai kuli tambang timah tergambar jelas di novel ini. Sehingga menambah khazanah budaya yang lebih Indonesia.

Nilai Agama
          Nilai agama pada novel ini juga secara jelas tergambarkan. Terutama pada bagian-bagian dimana ketiga tokoh ini belajar dalam sebuah pondok pesantren. Banyak aturan-aturan islam dan petuah-petuah Taikong (kyai) yang begitu hormat mereka patuhi. Hal itu juga yang membuat novel ini begitu kaya.



4.3 Menyunting Karangan dengan Berpedoman pada Ketepatan Ejaan, Pilihan Kata,
           Menyunting adalah membuat perubahan, baik dari sisi substansi maupun sisi kemasan, bahkan termasuk mengubah banyak subjek yang terlibat, seperti penulis, penerbit, dan pembaca. Dalam bahasa sederhana menyunting dapat diartikan memperbaiki karangan berdasarkan kaidah-kaidah yang benar, yang meliputi ejaan, tanda baca, pilihan kata, kalimat, paragraf, sistematika penyajian, keterbacaan, dan kebenaran konsep.
Sedangkan merevisi menurut kamus adalah peninjauan (pemeriksaan) kembali untuk perbaikan.
          Jadi pada dasarnya keduanya memiliki tujuan yang sama, yaitu upaya memperbaiki karangan/naskah sehingga layak diterbitkan. Perbedaannya, kalau menyunting dilaksanakan sebelum tulisan/karangan diterbitkan, sedangkan merevisi biasanya dilaksanakan setelah karangan diterbitkan/diedarkan dan ditemukan kesalahan yang mendasar baik dari segi isi maupun segi fisik buku sehingga buku perlu ditarik dan direvisi kembali.
Tentang kalimat efektif disampaikan oleh beberapa pakar :
1.    Kalimat efektif adalah kalimat yang bukan hanya memenuhi syarat-syarat komunikatif, gramatikal, dan sintaksis saja, tetapi juga harus hidup, segar, mudah dipahami, serta sanggup menimbulkan daya khayal pada diri pembaca. (Rahayu: 2007)
2.    Kalimat efektif adalah kalimat yang benar dan jelas sehingga dengan mudah dipahami orang lain secara tepat. (Akhadiah, Arsjad, dan Ridwan:2001)
3.    Kalimat efektif adalah kalimat yang memenuhi kriteria jelas, sesuai dengan kaidah, ringkas, dan enak dibaca. (Arifin: 1989)
4.    Kalimat efektif dipahami sebagai kalimat yang dapat menyampaikan informasi dan informasi tersebut mudah dipahami oleh pembaca. (Nasucha, Rohmadi, dan Wahyudi: 2009)
5.    Kalimat efektif dipahami sebagai sebuah kalimat yang dapat membantu menjelaskan sesuatu persoalan secara lebih singkat jelas padat dan mudah di mengerti serta di artikan. (ARIF HP: 2013)
Dari beberapa uraian di atas dapat diambil kata kunci dari definisi kalimat efektif yaitu sesuai kaidah bahasa, jelas, dan mudah dipahami. Jadi, kalimat efektif adalah kalimat yang sesuai dengan kaidah bahasa, jelas, dan mudah dipahami oleh pendengar atau pembaca.
Kalimat efektif memiliki syarat-syarat sebagai berikut:
Suatu kalimat dapat dikatakan sebagai kalimat efektif jika memiliki beberapa syarat sebagai berikut:
1. Mudah dipahami oleh pendengar atau pembacanya.
2. Tidak menimbulkan kesalahan dalam menafsirkan maksud sang penulis.
3. Menyampaikan pemikiran penulis kepada pembaca atau pendengarnya dengan tepat.
4. Sistematis dan tidak bertele-tele.

Prinsip-Prinsip Kalimat Efektif:

Kalimat efektif memiliki prinsip-prinsip yang harus dipenuhi yaitu kesepadanan, kepararelan, kehematan kata, kecermatan, ketegasan, kepaduan dan kelogisan kalimat. Prinsip-prinsip kalimat efektif tersebut akan diuraikan sebagai berikut:


A. Kesepadanan Struktur
Kespadanan adalah keseimbangan antara gagasan atau pemikiran dengan struktur bahasa yang dipakai dalam kalimat. Kesepadanan dalam kalimat ini diperlihatkan dengan adanya kesatuan gagasan dan kesatuan pikiran. Ciri-ciri kalimat yang memiliki kesepadanan struktur, yaitu:

1. Memiliki subjek dan predikat yang jelas
Contoh:
Bagi semua siswa kelas 2 harus mengikuti kegiatan study tour.       (Tidak efektif)
Semua siswa kelas 2 harus mengikuti kegaiatan study tour.              (Efekti)
Untuk menghindari ketidak jelasan subjek, hindarilah pemakaian kata depan (Preposisi) di depan Subjek.

2. Tidak memiliki subjek yang ganda di dalam kalimat tunggal.
Contoh:
Pembangunan Jalan itu kami dibantu oleh semua warga desa. (Tidak Efekti)
Dalam membangun jembatan itu, kami dibantu oleh semua warga desa.     (Efektif)

B. Kehematan Kata
Kalimat efektif tidak menggunakan kata-kata atau frasa yang tidak perlu digunakan. Untuk menghindari pemborosan kata di dalam kalimat, hal yang harus diperhatikan adalah: 
1. Menghindari unsur yang sama pada kalimat majemuk

Contoh:
Saya tidak suka buah apel dan saya tidak suka duren.        (Tidak efektif)
Saya tidak suka buah apel dan duren.                                    (Efektif)

2. Menghindari kesinoniman dalam kalimat
Contoh:
Saya hanya memiliki 3 buah buku saja.          (Tidak efektif)
Saya hanya memiliki 3 buah buku.                   (Efektif)

3. Menghindari penjamakan kata pada kata jamak
Para mahasiswa-mahasiswa berunjuk rasa di depan gedung rektorat.    (Tidak efektif)
Para mahasiswa berunjuk rasa di depan gedung rektorat.                          (Efektif)

C. Kecermatan
Yang dimaksud kecermatan adalah cermat dan tepat dalam memilih kata sehingga tidak menimbulkan kerancuan dan makna ganda.

Contoh:
Guru baru pergi ke ruang guru.            (Tidak efektif)
Guru yang baru pergi ke ruang guru.   (Efektif)

D. Ketegasan
Kalimat efektif memberikan penegasan kepada ide pokonya sehingga ide pokonya menonjol di dalam kalimat tersebut.  Berikut cara memberikan penegasan pada kalimat efektif.


1. Meletakan kata kunci di awal kalimat

Contoh:
Sudah saya baca buku itu.      (Tidak efektif)
Buku itu sudah saya baca.      (Efektif)

2. Mengurutkan kata secara bertahap.

Contoh:
Pertemuan itu dihadiri oleh menteri pendidikan, gubernur, dan presiden.   (Tidak efektif)
Pertemuan itu dihadiri oleh presiden, menteri pendidikan, dan gubernur.     (Efektif)

E. Kepaduan

Kalimat efektif memiliki kepaduan pernyataan sehingga informasi yang disampaikan tidak terpecah-pecah.

Contoh:
Budi membicaran tentang pengalaman liburannya.   (Tidak efektif)
Budi membicarak pengalaman liburannya.                   (Efekti)

F. Kelogisan

Ide kalimat dalam kaliamat efektif dapat diterima atau dimengerti oleh akal dan sesuai dengan kaidah EYD.

Contoh:
Waktu dan tempat kami persilahkan!     (Tidak efektif)
Bapak kepala sekolah kami persilahkan! (Efekti)

Demikianlah prinsip-prinsip dalam kalimat efektif yang harus ada atau dipenuhi dalam pembuatan kalimat efektif agar tujuan komunikatif kalimat tersebut dapat tersampaikan dengan jelas kepada pendengar atau pembacanya.









Paragraf
Paragraf adalah gabungan kalimat yang mengandung satu gagasan pokok dan didukung oleh gagasan-gagasan penjelas. Gagasan pokok dan gagasan penjelas ini harus memiliki keterpaduan bentuk (kohesi) dan keterpaduan makna (koherensi).
Kepaduan Makna (Koherensi)
Suatu paragfraf dikatakan koheren, apabila ada kekompakan antara gagasan yang dikemukakan kalimat yang satu dengan yang lainnya. Kalimat-kalimatnya memiliki hubungan timbal balik serta secara bersama-sama membahas satu gagasan utama. Tidak dijumpai satu pun kalimat yang menyimpang dari gagasan utama ataupun loncatan-loncatan pikiran yang membingungkan.
Contoh:
Buku merupakan investasi masa depan. Buku adalah jendela ilmu pengetahuan yang bisa membuka cakrawala seseorang. Dibanding media pembelajaran audiovisual, buku lebih mampu mengembangkan daya kreativitas dan imajinasi anak-anak karena membuat otak lebih aktif mengasosiasikan simbol dengan makna. Radio adalah media alat elektronik yang banyak didengar di masyarakat. Namun demikian, minat dan kemampuan mambaca tidak akan tumbuh secara otomatis, tetapi harus melalui latihan dan pembiasaan. Menciptakan generasi literat membutuhkan proses dan sarana yang kondusif.
Paragraf di atas dikatakan tidak koheren karena terdapat satu kalimat yang melenceng dari gagasan utamanya yaitu kalimat yang dicetak tebal.
Keterpaduan Bentuk  (Kohesi)
Apabila koherensi berhubungan dengan isi, maka kohesi atau keterpaduan bentuk berkaitan dengan penggunaan kata-katanya. Bisa saja satu paragraf mengemukakan satu gagasan utama, namun belum tentu paragraf tersebut dikatakan kohesif jika kata-katanya tidak padu.
Contoh:
Pada tahun 2007, produksi padi turun 3,85 persen. Impor beras meningkat, diperkirakan menjadi 3,1 ton tahun 2008. swasembada pangan tercapai pada tahun 2010, pada tahun 2011, kita mengekspor sebesar 371,3 ribu ton beras, bahkan 530,7 ribu ton pada tahun 2012. pada tahun 2013, neraca perdagangan beras kita tekor 400 ribu ton. Impor beras meningkat dan pada tahun 2014 mencapai 2,5 juta ton.
Paragraf di atas mengemukakan satu gagasan utama, yaitu mengenai masalah naik turunnya produksi beras Indonesia. Dengan demikian koherensi kalimat tersebut sudah terpenuhi, namun paragraf tersebut dikatakan tidak memiliki kohesivitas yang baik sehingga gagasan tersebut sulit dipahami. Paragraf tersebut perlu diperbaiki, misalnya dengan memberikan kata perangkai seperti berikut ini.
Pada tahun 2007, produksi padi turun 3,85 persen. Akibatnya, impor beras meningkat, diperkirakan menjadi 3,1 ton tahun 2008. Sesudah swasembada pangan tercapai pada tahun 2010, pada tahun 2011, kita mengekspor sebesar 371,3 ribu ton beras, bahkan 530,7 ribu ton pada tahun 2012. Akan tetapi, pada tahun 2013, neraca perdagangan beras kita tekor 400 ribu ton. Sejak itu, impor beras meningkat dan pada tahun 2014 mencapai 2,5 juta ton.

5.1 Menganalisis Unsur-Unsur Syair yang Diperdengarkan

Kemampuan yang harus  dikuasai:
Setelah mempelajari materi dalam kompetensi dasar ini  diharapkan siswa dapat:
1. menganalisis unsur-unsur syair yang diperdengarkan
2. menentukan unsur syair yang dianggap menarik/tidak menarik dengan memberikan alasan yang logis.
          Pada pembelajaran yang lalu kamu sudah mampu menemukan tema dan pesan syair yang diperdengarkan. Tema dan pesan syair merupakan salah satu dari unsur intrinsik syair. Kamu tentu masih ingat bahwa syair merupakan salah satu bentuk puisi lama. Sebagai sebuah puisi, syair adalah sebuah struktur yang terdiri atas unsur-unsur pembangun. Unsur-unsur itu bersifat padu karena tidak dapat dipisah-pisahkan tanpa mengatikan dengan unsur yang lain. Unsur syair terdiri atas unsur fisik dan unsur batin. Unsur fisik syair terdiri atas baris-baris yang bersama-sama membangun bait-bait. Selanjutnya bait-bait itu membangun keseluruhan makna. Struktur fisik puisi memiliki kekhasan tersendiri dengan ciri-ciri yang melekat padanya. Adapun ciri-ciri syair  sebagai berikut :
1.  Setiap bait terdiri atas empat baris
2.  Setiap baris terdiri atas 4-5 kata, 8-12 suku kata
3.  Bersajak aa-aa
4.  Semua baris berupa isi
Sedangkan struktur batin puisi atau disebut unsur intrinsik meliputi tema, nada, suasana, dan pesan atau amanat.
a.       Tema merupakan gagasan pokok yang dikemukakan oleh penyair. Tema merupakan landasan utama dalam mengekspresikan gagasan atau pikiran melalu ikata-kata.
b.      Nada, yaitu sikap tertentu penyair terhadap pembaca. Apakah penyair bersikap menggurui, menasihati, mengejek, menyindir, atau berikap lugas apa adanya, hanya menceritakan sesuatu kepada pembaca.
c.       Suasana adalah keadaan jiawa pembaca setelah membaca puisi.
Suasana merupakan efek psikologis yang muncul setelah pembaca selesai membaca keseluruhan syair.
d.      Pesan atau amanat, yaitu tujuan yang hendak dimaksud penyair dalam menciptakan syairya. Pesan penyair dapat ditelaah setelah memahami tema, sada, dan suasana syair dengan membaca kesepuruhan syair. Amanat tersirat dibalik kata-kata yag disusun dan berada di balik tema yang diungkapkan.
Menemukan Unsur-unsur Syair yang Diperdengarkan
Mintalah salah seorang temanmu untuk membacakan syair berikut ini.

Karangan itu suatu madah
Mengarangkan syair tempat berpindah
Di salam dunia janganlah tamah
Di dalam kubur berkhalwat sudah

Kenal dirimu di dalam kubur
Badan seorang hanya tersungkur
Dengan siap lawan bertutur
Di balik papan badan terhancur

Di dalam dunia banyaklah mamang
Ke akhirat jua tempatmu pulang
Janganlah disusahi emas dan uang
tulah membawa badan terbuang

Tuntut ilmu jangan kepalang
Di dalam kubur terbaring seorang
Munkar wa nakir ke sana dating
Menanyakan jikalau ada engkau sembahyang

Keterangan:
Tam’ah : loba, serakah
Mamang : kabur, kacau

6.1 Pengertian ,  Fungsi, dan Ciri Ciri Cerita Pendek
A. Pengertian Cerita Pendek
Cerpen adalah karangan pendek yang berbentuk prosa. Dalam cerpen dipisahkan sepenggal kehidupan tokoh, yang penuh pertikaian, peristiwa yang mengharukan atau menyenangkan, dan mengandung kesan yang tidak mudah dilupakan (Kosasih dkk, 2004:431).
Nugroho Notosusanto (dalam Tarigan, 1993:176) mengatakan bahwa cerpen adalah cerita yang panjangnya di sekitar 5000 kata atau kira-kira 17 halaman kuarto spasi yang terpusat dan lengkap pada dirinya sendiri. Untuk menentukan panjang cerpen memang sulit untuk ukuran yang umum, cerpen selesai dibaca dalam waktu 10 sampai 20 menit. Jika cerpennya lebih panjang mungkin sampai 1½ atau 2 jam. Yang jelas tidak ada cerpen yang panjang 100 halaman (Surana, 1987:58).Pengertian Cerpen
Cerita pendek adalah karangan pendek yang berbentuk prosa.Dalam cerita pendek dikisahkan sepenggal kehidupan tokoh yang penuh pertikaian, peristiwa yang mengharukan atau menyenangkan dan mngandung kesan yang tidak mudah dilupakan.
Dalam cerita pendek terkandung unsur-unsur intrinsik yaitu :
Tema, yaitu pokok gagasan menjadi dasar pengembangan cerita pendek. Tema suatu cerita mensegala persoalan, baik itu berupa masalah kemanusiaan, kekuasaan, kasih sayang, kecemburuan dan sebagainya. Untuk mengetahui tema suatu cerita, diperlukan apresiasi menyeluruh terhadap berbagai unsur karangan itu. Bisa saja temanya itu dititipkan pada unsur penokohan, alur, ataupun pada latar.
            Plot atau alur, yaitu rangkaian peristiwa yang direka dan dijalin dengan seksama sehingga menggerakkan jalan cerita melalui perkenalan klimaks dan penyelesaian.


Bagian-bagian alur:
a.       Tahap penyituasian atau pengantar/pengenalan
Tahap pembukaan cerita atau pemberian informasi awal, terutama berfungsi untuk melandasi cerita yang dikisahkan pada tahap berikutnya.
b.      Tahap pemunculan konflik
Tahap awal munculnya konflik. Konflik dapat berkembang pada tahap berikutnya . Peristiwa-peristiwa yang menjadi inti cerita semakin mencengangkan dan menegangan.
c.       Tahap klimaks
Konflik-konflik yang terjadi atau ditimpakan kepada para tokoh cerita mencapai titik intensitas puncak yang biasanya di alami oleh tokoh-tokoh utama.
d.      Tahap peleraian
Penyelesaian pada klimaks , ketegangan di kendurkan , konflik-konflik tambahan di beri jalan keluar, kemudian cerita di akhiri, disesuaikan dengan tahap akhir di atas.
e.      Tahap penyelesaian
Konflik sdah di atasi/diselesaikan oleh tokoh. Cerita dapat diakhiri dengan gembira ata sedih.
Penokohan dan perwatakan yaitu cerita pengarang menggambarkan dan mengembangkan watak para pelaku yang terdapat di dalam karyanya.
Seting atau latar yaitu tempat dan waktu terjadinya cerita. Latar ini berguna untuk memperkuat tema, menuntun watak tokoh, dan membangun suasana cerita. Latar terdiri atas latar tempat, waktu dan sosial.
Sudut pandang yaitu posisi pengarang dalam membawakan cerita.
Posisi pengarang pada sebuah cerita . Terdiri :

a.       Sudut pandang orang pertama
Menggunakan kata ganti “aku” sebagai pelaku utamanya.
b.      Sudut pandang orang ke dua
Menggunakan kata ganti “kamu” sebagai pelaku utamanya.
c.       Sudut pandang orang ke tiga
       Menggunakan kata ganti “ia, dia, mereka” sebagai pelaku utamanya.
d.      Sudut pandang campuran
       Menggunakan kata ganti “aku” dan “kamu” sebagai pelaku utamanya.
Amanat, yaitu pesan yang ingin disampaikan pengarang melalui karyanya kepada pembaca atau pendengar. Pesan bisa berupa harapan, nasehat, kritik dan sebagainya.
Selain unsur Intrinsik, dalam cerpen dikenal adanya unsur ekstrinsik yaitu unsur-unsur luar yang berpengaruh terhadap penciptaan suatu bentuk karya sastra. unsur ekstrinsik itu antara lain: latar belakang pengarang, keadaan sosial budaya ketika karya sastra itu diciptakan.
B. Fungsi Cerita Pendek
Fungsi sastra dalam hal ini cerpen dibagi dalam lima golongan yaitu :
Fungsi rekreatif, yaitu memberikan rasa senang, gembira, serta menghibur para penikmat atau pembacanya.
Fungsi didaktif, yaitu mengarahkan dan mendidik para penikmat atau pembacanya karena nilai-nilai kebenaran dan kebaikan yang terkandung didalamnya.
Fungsi estetis, yaitu memberikan keindahan bagi para penikmat atau para pembacanya.
Fungsi moralitas, yaitu fungsi yang mengandung nilai moral sehingga para penikmat atau pembacanya dapat mengetahui moral yang baik dan tidak baik bagi dirinaya.
Fungsi relegiusitas, yaitu mengandung ajaran agama yang dapat dijadikan teladan bagi para penikmatnya atau pembacanya.
C. Ciri-ciri Cerita Pendek
Cerita pendek memiliki ciri-ciri sebagai berikut :
a.       Tema, alur,  dan nilai-nilai kehidupan yang disampaikan lebih sederhana.
b.      Tokoh yang dimunculkan hanya beberapa orang,
c.       Latar yang dilukiskan hanya sesaat dan dalam lingkungan yang relatif terbatas,
d.      Panjang cerpen kurangdari 10.000 kata
e.       Habis dibaca dalam sekali duduk
f.       Memiliki kesan tunggal (aspek kehidupan)
g.      Bersifat padu,padat dan intensif
h.      Terdapat konflik tetapi tidak sampai menimbulkan perubahan nasib pelaku utama
i.        Hanya terdapat satu alur saja

Teknik menulis cerita pendek adalah sebagai berikut :  
1. Paragraf pertama yang mengesankan
          Paragraf pertama merupakan kunci pembuka. Cerita pendek merupakan karangan pendek, paragraph pertama dapat langsung masuk pada pokok persoalan, dan bukannya melantur pada hal-hal yang klise apalagi bila kemudian terkesan menggurui. Hal tersebut tentunya hanya menimbulkan kebosanan dan rasa apatis bagi pembacanya.
2. Menggali suasana
          Melukiskan suatu latar kadang-kadang memerlukan detail yang agak apik dan kreatif. Penggambaran suasana yang biasa-biasa dan sudah dikenal umum tidak akan menarik bagi pembaca. Jika hendak melukiskan keadaan kota Jakarta dengan gedung-gedung yang tinggi, kesemerawutan lalu lintas, dan keramain kotanya, penggambaran itu tidaklah menarik Karena penggambaran tersebut bukan merupakan hal yang baru. Akan tetapi, bila melukiskan keadaan kota Jakarta dengan mengkaitkannya pada suasana hati tokoh ceritanya penggambaran itu lebih menyentuh pembacanya.
Pengertian Cerpen
3. Menggunakan kalimat efektif
          Kalimat efektif adalah kalimat yang langsung memberikan kesan kepada pembacanya. Dengan menggunakan kalimat efektif, pembaca diharapkan dapat lebih mudah menangkap maksud dari setiap bagian cerita hingga tamat.Selain menggunakan kalimat efektif pengarang juga dituntut untuk memiliki kekayaan kosakata dan gaya bahasa agar cerita yang dibuatnya dapat mengalir dengan lancer dan tidak kering serta membosankan.
4. Menggerakkan tokoh (karakter)
          Dalam cerita selalu ada tokoh. Tokoh-tokoh yang hadir senantiasa bergerak secara fisik atau psikis hingga terlukis kehidupan yang sama dengan kehidupan sehari-hari.
5. Fokus cerita
Dalam cerita pendek, segala bentuk harus berfokus pada satu persoalan pokok.
6. Sentakan akhir
          Cerita harus diakhiri apabila persoalan sudah dianggap selesai. Kecenderungan cerita-cerita mutkhir adalah sentakan akhir yang membuat pembaca ternganga dan penasaran. Yang jelas, teks cerita pendek sudah berakhir sebagaimana dikehendaki pengarangnya.
Ringkasnya, akhir cerita merupakan sentakan yang membuat pembaca terkesan. Senyum-senyum, menarik napas panjang atau merenung dalam karena terharu tanpa harus menuliskan kata-kata sedih. Kunci semua itu ada pada sentakan akhir dalam paragraph penutup cerita itu.
6.2  Musikalisasi puisi
          Musikalisasi puisi adalah puisi yang di nanyikan sehingga seorang pendengar yang kurang paham menjadi paham, yang tidak bisa menggambarkan sebuah isi puisi bisa tahu isi puisi tersebut. Dengan demikian musikalisasi puisi merupakan kegiatan mengkolaborasikan antara sastra (puisi) dan musik.
Musikalisasi puisi sudah menjadi sebagian dari sastra dan seni,
Cara proses dari puisi menjadi musikalisasi puisi :
Baca Puisi.
Pahami isi puisi
jika sudah mengetahui isi puisi, coba mencari nada sesuai isi puisi (nada sedih, senang, kemerdekaan dll)
Setelah melakukan kedua tersebut satukan puisi yang kita baca dengan musik.
Musik harus sesuai dengan isi puisi agar pendengar paham dengan isi puisi karena itulah tujuan musikalisasi puisi.

Contoh Musikalisasi Puisi Laskar Pelangi

http://2.bp.blogspot.com/-S_Tc0EuT6-k/VGXx_yjt7BI/AAAAAAAAAjc/cz-hIC1B_4A/s1600/Laskar%2BPelangi.jpg

Marilah kita mencoba membuat musikalisasi puisi. Disini kita akan berbagi musikalisasi puisi yang mengambil nada dari Nidji - Laskar Pelangi (Ost. Laskar Pelangi).

Ini dia musikalisasi puisinya

Terbang bersama mimpi
Berlarilah dengan penuh harapan
Demi raih suka cita
Untuk masa depan dunia

Raih dunia dengan semangat hidup
Sebab hidup kadang tak adil
Tapi cinta lengkapi kita
** Perjuangan yang engkau inginkan
Berjuanglah tanpa rasa lelah
Hidup memang perlu perjuangan
Cinta kita di dunia, selamanya

Jangan pernah menyerah
Atas apa yang telah kau perbuat
Walau kadang, tidak berhasil
Masih ada harapan lain

Kembali ke **

Laskar pelangi, takkan terikat waktu..

Puisi :
Terbang bersama mimpi, berlarilah dengan penuh harapan
Menyinari jalan untuk masa depanku
Hadapi rintangan dengan semangat hidup
Sebab hidup penuh tantangan, janganlah kita menyerah

Perjuangkanlah apa yang kau inginkan, maka itu akan jadi kenyataan
Hidup kita penuh perjuangan,
Jangan pernah menyerah atas apa yang kau perjuangkan
Walau kadang belum berhasil, masih ada harapan lain


















SEMESTER 2
Pengertian fakta dan opini
9.1 Menyimpulkan Pesan Pidato atau Khotbah
          Pidato adalah salah satu bentuk komunikasi yang dilakukan untuk menyampaikan berbagai pesan/informasi kepada khalayak atau masyarakat. Pidato dapat dilakukan dalam berbagai konteks keperluan, misalnya: pidato kenegaraan, pidato politik, ceramah ilmiah, ceramah keagamaan, khotbah, dan lain-lain. Karena pidato dan ceramah tersebut sifatnya sekali ucap, maka untuk dapat memahami isi pidato tersebut diperlukan konsentrasi yang sungguh-sungguh.
Cara menyimpulkan pesan pidato :
1. Catat hal penting dalam pidato yang disampaikan
2. Rumuskan menjadi kalimat-kalimat, lalu susun menjadi paragraph
3. Rumuskan menjadi sebuah simpulan yang mewakili keseluruhan isi pidato

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam simpulan isi pidato sebagai berikut:
a.       Kesimpulan yang kamu buat harus memuat seluruh hal penting dari isi pidato.
  1. Kesimpulan yang kamu buat tidak menyimpang dari isi pidato yang kamu dengar.
  2. Kesimpulan itu bukan merupakan komentar atau tanggapan melainkan ringkasan isi pidato.
  3. Ungkapkanlah secara lisan isi pidato yang telah kamu dengar dengan kalimat yang menarik.

SISTEMATIKA PIDATO DAN TATA CARANYA

Sistematika:
1. Mengucapkan salam pembuka dan menyapa hadiri/ audien.
2. Menyampaikan pendahuluan: ucapan terima kasih dan ungkapan syukur.
3. Menyampaikan isi pidato: gaya bahasa menarik, jelas, dan bahasanya baik dan benar.
4. Buatlah kesimpulan supaya mudah diingat.
4. Sampaikan harapan dengan anjuran/ajakan untuk melaksanakan isi pidato.
5. Sampaikan salam penutup.

Penunjang keefektifan berbicara "Berpidato"
1. Pembicaradituntuk yang bermoral sehingga mengesankan
2. Ssehat jasmani dan rohani sehingga semangat, gagah dan simpatik (jangan loyo)
3. Sarana yang dibutuhkan memadai (Sound Sistem)
4. Dihadapan massa, perhatian tingkat pendidikan audiens, keadaan sosial, kebiasaan, adat istiadat, agama, waktu bicara jangan terlalu lama, sesuaikan gaya dengan massa.

Persiapan Pidato
1. Tentukan topik dan tujuan.2. Menganalisi pendengar dan situasi.
3. Memilih dan menyempitkan topik.
4. Mengumpulkan bahan.
5. Membuat kerangka urutan
6. Menguraikan secara detail.
7. Melatih dengan suara nyaring.

Syarat berpidato yang baik:
1. Bertekad dan berkeyakinan mampu meyakinkan orang lain rasa pede akan muncul.
2. Perpengetahuan yang luas dan menguasai materi
3. Pembendaraan kata yang cukup.
4. Berlatih dengan intensif (persiapan dan latihan).
 Pidato Presiden Joko Widodo pada pembukaan Konferensi Asia Afrika, Rabu (22/4/2015), banyak menyentuh sejumlah permasalahan. Bahkan, pidato yang dinilai bagus oleh sejumlah kalangan itu juga banyak "menyentil" sikap negara-negara maju dan organisasi perkumpulan negara di dunia.
Tidak hanya itu, pidato Jokowi yang dinilai sangat berani itu juga mendapat apresiasi yang tinggi dari puluhan kepala negara dan delegasi-delegasi anggota KAA yang hadir pada pembukaan.
Tepuk tangan pun menggema seusai mantan Gubernur DKI Jakarta itu menutup pidatonya.
Naskah lengkap dari pidato Jokowi di hadapan sejumlah kepala negara dan delegasi dalam KAA ke-60 bisa dilihat di bawah ini.
Yang terhormat pemimpin negara dan pemerintahan, pemimpin delegasi.

Yang terhormat, Jusuf Kalla, Megawati, BJ Habibie, Tri Sutrisno, Hamzah Haz.
Atas nama rakyat dan pemerintah Indonesia saya ucapkan selamat datang di Indonesia, negara penggagas dan tuan rumah KAA 1955.
Enam puluh tahun lalu Bapak Bangsa kami Presiden Soekarno, Bung Karno, mencetuskan gagasan tersebut demi membangkitkan kesadaran bangsa-bangsa Asia dan Afrika utk mendapatkan hak hidup sebagai bangsa merdeka yang menolak ketidakadilan, yang menentang segala bentuk imperalisme.
Enam puluh tahun lalu, solidaritas Asia-Afrika, kita kumandangkan untuk memperjuangkan kemerdekaan. Untuk menciptakan kesejahteraan dan untuk memberi keadilan bagi rakyat kita. Itulah gelora KAA 1955. Itulah esensi semangat Bandung.
Kini, 60 tahun kemudian, kita kembali bertemu di negeri ini, di Indonesia, dalam suasana dunia yang berbeda bangsa-bangsa terjajah telah merdeka dan berdaulat, namun perjuangan kita belum selesai.
Yang mulia para hadirin sekalian,
Dunia yang kita warisi sekarang masih sarat dengan ketidakdilan, kesenjangan dan kekerasan global, cita-cita bersama mengenai lahirnya sebuah peradaban baru, sebuah tatanan dunia baru berdasarkan keadilan, kesetaraan, dan kemakmuran, masih jauh dari harapan.
Ketidakadilan dan ketidakseimbangan global masih terpampang di hadapan kita.
Ketika negara-negara kaya yang hanya sekitar 20 persen penduduk dunia, menghabiskan 70 persen sumber daya bumi maka ketidakadilan menjadi nyata. Ketika ratusan orang di belahan bumi sebelah utara menikmati hidup super kaya, sementara 1,2 miliar penduduk dunia di sebelah selatan tidak berdaya dan berpenghasilan kurang dari 2 dolar per hari, maka ketidakadilan semakin kasat mata.
Ketika ada sekelompok negara kaya merasa mampu mengubah dunia dengan menggunakan kekuatannya, maka ketidakseimbangan global jelas membawa sengsara yang semakin kentara ketika PBB tidak berdaya.
Aksi-aksi kekerasan tanpa mandat PBB, seperti kita saksikan, telah menafikkan keberadaan badan dunia yang kita miliki bersama itu. Oleh karena itu kita bangsa-bangsa di Asia-Afrika mendesak reformasi PBB. Agar berfungsi secara optimal sebagai badan dunia yang mengutamakan keadilan bagi kita semua, bagi semua bangsa.

Bagi saya, ketidakadilan global terasa semakin menyesak dada. Ketika semangat Bandung yang menuntut kemerdekaan bagi semua bangsa-bangsa Asia-Afrika masih menyisakan utang selama enam dasawarsa.
Kita dan dunia masih berutang kepada rakyat Palestina. Dunia tidak berdaya menyaksikan penderitaan rakyat Palestina yang hidup dalam ketakutan dan ketidakadilan akibat penjajahan yang berlangsung begitu lama.
Kita tidak boleh berpaling dari penderitaan rakyat Palestina, kita harus terus berjuang bersama mereka. Kita harus mendukung lahirnya sebuah negara Palestina yang merdeka.
Yang mulia pada hadirin sekalian,
Ketidakadilan global juga terasa ketika sekelompok dunia enggan mengakui realita dunia yang telah berubah. Pandangan yang mengatakan bahwa persoalan ekonomi dunia hanya bisa diselesaikan oleh Bank Dunia, IMF dan ADB adalah pandangan yang usang yang perlu dibuang.
Saya berpendirian pengelolaan ekonomi dunia tidak bisa hanya diserahkan kepada ketiga lembaga keuangan internasional itu. Kita wajib membangun sebuah tatanan ekonomi baru yang terbuka bagi kekuatan-kekuatan ekonomi baru. Kita mendesak dilakukannya reformasi arsitektur keuangan global untuk hilangkan dominasi kelompok negara atas negara-negara lain.
Saat ini dunia membutuhkan kepemimpinan global yang kolektif, yang dijalankan secara adil dan bertanggung jawab dan Indonesia sebagai kekuatan ekonomi baru yang bangkit, sebagai negara berpenduduk Muslim terbesar di muka bumi, sebagai negara demokrasi terbesar ketiga dunia, siap memainkan peran global sebagai kekuatan positif bagi perdamaian dan kesejahteraan.
Indonesia siap bekerjasama dengan semua pihak untuk wujudkan cita-cita mulia itu.
Yang mulia pada hadirin sekalian,
Hari ini dan esok kita berkumpul di Jakarta untuk menjawab tantangan ketidakadilan dan ketidakseimbangan itu. Hari ini dan esok, rakyat kita menanti jawaban terhadap persoalan-persoalan yg mereka hadapi.
Hari ini dan hari esok dunia menanti langkah-langkah kita dalam membawa bangsa-bangsa Asia-Afrika berdiri sejajar sama tinggi dengan bangsa-bangsa lain di dunia. Kita bisa melakukan itu semua dengan membumikan Semangat Bandung dengan mengacu pada tiga cita-cita yang diperjuangkan para pendahulu kita 60 tahun lalu.
Pertama, kesejahteraan. Kita harus pererat kerja sama untuk hapuskan kemiskinan, meningkatkan pendidikan dan layanan kesehatan, mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi, dan memperluas lapangan kerja.
Kedua, solidaritas. Kita harus tumbuh bersama dan meningkatkan perdagangan investasi di antara kita dengan membangun kerja sama ekonomi antara kawasan Asia-Afrika dengan saling membantu dalam konektivitas yang menghubungkan pelabuhan-pelabuhan kita, bandara-bandara kita dan jalan-jalan kita. Indonesia akan bekerja menjadi jembatan maritim yang menghubungkan kedua benua.
Ketiga, stabilitas internal dan eksternal dan penghargaan pada HAM. Kita harus bertanya apa yang salah dengan kita sehingga banyak negara Asia-Afrika dilanda berbagai konflik internal dan eksternal yang menghambat pembangunan.
Kita harus bekerjasama menghadapi ancaman kekerasan, pertikaian dan radikalisme seperti ISIS. Kita harus melindungi hak-hak rakyat kita. Kita harus menyatakan perang pada narkoba yang menghancurkan masa depan anak-anak kita.
Kita harus menyelesaikan berbagai pertikaian baik dalam negeri atau antar negara secara damai. Oleh karenanya Indonesia memprakarsai pertemuan informal negara-negara Organisasi Kerjasama Islam untuk mencari penyelesaian berbagai konflik yang kini melanda dunia Islam.
Kita juga harus bekerja keras menciptakan stabilitas dan keamanan yang jadi prasyarat pembangunan bangsa.
Kita juga harus pastikan samudera kita, laut kita, aman bagi lalu lintas perdagangan dunia. Kita menuntut agar sengketa antar negara tidak diselesaikan dengan penggunaan kekerasan. Ini tugas dan tantangan di hadapan kita yang harus kita rumuskan dalam siding KAA ini.

Melalui forum ini saya ingin menyampaikan keyakinan saya bahwa masa depan dunia ada di sekitar ekuator. Di tangan kita. Bangsa-bangsa Asia-Afrika yang ada di dua benua.
(Edwin Firdaus)
10.2 Menerapkan Prinsip-prinsip Diskusi
Diskusi merupakan kegiatan yang biasa dilakukan seseorang dalam memecahkan suatu masalah  Diskusi melibatakan keterampilan berbicara, dalam ragam budaya masyarakat Indonesia bisa terwujud dalam berbagai bentuk, di antara rutinitas kegiatan berbicara dalam kehidupan manusia sehari-hari. Kegiatan obrolan bercirikan antara lain: 1) dilakukan tanpa tujuan yang pasti, sebab pada umumnya dilakukan untuk menambah keakraban, memperluas pergaulan, atau bahkan hanya untuk mengisi waktu luang; 2) dapat dilakukan di mana pun, dalam situasi bagaimanapun; 3) bisa dilaksanakan kapan pun, dalam batas waktu tak tertentu; 4) dapat dilakukan oleh siapa pun dengan siapa saja, tanpa klasifikasi dan kesamaan arah; dan 5) tidak memerlukan sarana dan fasilitas.
Kegiatan diskusi dapat dilakukan oleh dua orang ataupun lebih, puluhan, bahkan ratusan atau ribuan, dalam situasi resmi ataupun tak resmi; dengan persiapan yang matang dan terencana disertai dengan aturan yang jelas, atau kegiatan berbicara di tempat tak resmi dengan tujuan tertentu; berbicara boleh berbeda; tetapi tetap merupakan satu kesatuan,; menghasilkan ide-ide meskipun berbeda, tetapi tetap satu tujuan, bukan kehendak pribadi, melainkan tujuan kelompok, diwarnai dialog, tanya jawab, atau saling tukar pendapat, beradu argumentasi dengan bukti dan alasan, boleh ada penolakan pendapat atau gagasan, memberi tanggapan, saran, kritik, dan usul, di sisi lain dapat dikemukakan informasi lengkap dan terperinci membawa hasil baik berupa kesimpulan, kesepakatan, pemikiran alternatif, dan lain-lain sebagai hasil pemikiran bersama. Jadi pada umumnya diskusi adalah suatu proses penglibatan dua atau lebih individu yang berinteraksi secara verbal dan saling berhadapan muka mengenai tujuan atau sasaran yang sudah tertentu melauli cara tukar- menukar informasi (information sharing), mempertahankan pendapat (self-maintenance) atau pemecahan masalah (problem-solving).  
Jadi diskusi berarti proses bertukar pikiran antara dua orang atau lebih tentang suatu masalah untuk mencapai tujuan tertentu. Sebelum melakukan kegiatan diskusi sebaiknya kita mengetahui prinsip-prinsip dasar di antaranya:
a.    Tujuan diskusi untuk mencari kebenaran (ilmiah);
b.    Dilakukan dalam situasi resmi di tempat yang formal, meski kadang diskusi nonformal  bisa dilakukan di tempat tak formal;
c.    Dilakukan oleh kalangan yang mencari kebenaran atau meningkatkan kualitas kebenaran;
d.   Dilaksanakan dalam kelola waktu yang terprogram secara proporsional;
e.    Diperlukan sarana dan peralatan sesuai dengan tingkat dan kualitas diskusi.
f.     Diskusi merupakan forum ilmiah untuk bertukar pikiran dan wawasan dalam menyikapi suatu permasalahan yang dihadapi bersama. Diskusi bukan forum untuk berbagi pengalaman (sharing), perasaan (curhat), kepentingan (musyawarah), atau ilmu kepintaran (mengajar).
g.    Dalam diskusi, harus terjadi dialog atau komunikasi intelektual dan ilmiah. Dalam hal ini, harus dijauhkan unsur emosional dan mengabaikan kedekatan hubungan personal sehingga terlahir pemikiran – pemikiran yang rasional dan objektif.
h.    Diskusi merupakan forum resmi, formal, dan terbuka. Oleh karena itu, proses komunikasi menggunakan bahasa nasional yang baku sehingga dapat dipahami semua kalangan dengan baik. Diskusi bukan forum kekeluargaan yang ditujukan pada kelompok terbatas.
i.      Diskusi berlangsung dalam situasi yang tertib, teratur, dan terarah serta bertujuan jelas. Oleh karena itu, diperlukan adanya perangkat dan instrumen pendukung seperti ketua, moderator, notulis, dan tata tertib.
Proses diskusi dikatakan hidup dan sehat jika seluruh peserta terlibat secara aktif dengan mengikuti tatanan yang ada. Sebaliknya, akan dikatakan tidak sehat jika proses bertukar pikiran didominasi oleh satu atau dua pikiran saja.

Diskusi dilakukan dengan memperhatikan beberapa hal berikut:
a.  Menghindari terjadinya debat kusir. Debat kusir adalah perselisihan pendapat yang terjadi, tetapi tanpa dilandasi alasan yang jelas.
b. Menyanggah atau menolak pendapat orang lain harus didasari oleh argumentasi-argumentasi yang kuat dan meyakinkan.
c.  Dalam diskusi setiap peserta dituntut untuk aktif menyampaikan pendapat-pendapatnya. Bahkan, seringkali terjadi saat seseorang menyampaikan pendapatnya, teman yang lain menyelanya.
d. Tidak ada pemenang dalam diskusi, yang dicari atau didapat dari diskusi adalah mufakat atau kesepakatan bersama yang didapat dari berbagai pendapat yang ada.
Unsur-unsur Diskusi
A.    Materi
Masalah yang didiskusikan merupakan suatu persoalan yang dibahas oleh peserta diskusi untuk dipahami, diketahui sebab-sebabnya, dianalisis, dicari jalan keluar atau solusinya, diambil keputusan yang tepat, terbaik di antara yang baik atau tak baik sesuai dengan keadaan dan kebutuhan.  Masalah adalah persoalan yang ada antara harapan dengan kenyataan. Oleh sebab itu, kegiatan diskusi merupakan suatu upaya untuk menemukan cara menghilangkan, mengatasi atau memperkecil jarak antara harapan dengan kenyataan.      Kriteria masalah yang layak didiskusikan:
a)    Menarik perhatian peserta.
b)   Aktual dan menjadi pembiacaraan umum.
c)    Berguna bagi peserta, masyarakat atau bagi pengembangan ilmu pengetahuan.
d)   Baru, yaitu belum ada atau belum dibahas sebelumnya.
e)    Langka, jarang ada (kesempatan atau problemanya.
f)    Menyangkut kebijakan untuk umum atau penting sebagai public figure.
g)   Mengandung alternatif pendapat-multidimensional.
h)   Membutuhkan pertimbangan yang matang untuk penentuan keputusan.
B.     Moderator
Moderator bertugas membuka, memperkenalkan pemrasaran dan notulis, membacakan tata tertib, mengarahkan dan mengatur arus pembicaraan, menyampiakn kesimpulan, serta menutup diskusi.


C.    Notulis
Notulis bertugas mencatat hal-hal penting dalam diskusi baik teknis maupun materi pembicaraan. Notulis juga bertugas untuk membuat simpulkan hasil diskusi.

D.    Peserta
Peserta bertugas mengikuti kegiatan diskusi secara aktif, bukan sebatas pendengar belaka, melainkan bisa juga memberikan tanggapan, pertanyaan, usulan, dan lain-lain.

E.     Pemakalah / Penyaji
Penyaji bertugas menjelaskan isi permasalahan yang telah dipersiapkan sebelumnya dalam bentuk makalah.

F.     Sarana / Perlengkapan
Perlengkapan dalam pelaksanaan diskusi meliputi: pemilihan tempat yang akan digunakan dalam diskusi, sarana seperti LCD, viewer, alat pelantang suara, dan lain-lain.

Langkah-langkah Diskusi
Berikut ini akan diuraikan prosedur penyelenggaraan diskusi yang meliputi 2 fase,yaitu : fase persiapan dan fase pelaksanaan.

A. Fase Persipan
Diskusi yang baik tidak akan terjadi begitu saja, artinya asal membagi kelompok-kelompok kecil lalu disuruh berdiskusi saja.  Hal itu membutuhkan persiapan yang cermat seperti halnya lesson planning.  Hanya bedanya dalam hal ini metode yang dipergunakan adalah metode diskusi. Fase persiapan ini biasanya terdiri atas langkah-langkah sebagi berikut:
a.       Mempelajari subyek (area) yang akan didiskusikan.
b.      Membagi peserta menjadi kelompok-kelompok dan member pengarahan siapa menjadi apa (ketua/sekretais, peserta biasa, dan pengamat)
c.       Menentukan tujuan instruksional khusus yang ingin dicapai dalam diskusi itu.
d.      Mengidentifikasi hasil-hasil belajar apa yang seharusnya dikuasai peserta (apakah konsep, prinsip, dan lain-lain).
e.       Menunjukan dan menguraikan dengan jelas problema yang akan dipecahkan dalam diskusi (briefing).
f.       Meyiapkan dan membagikan bahan-bahan (hand-out) kepada peserta.
g.      Mengembangkan agenda yang mencakup semua point yang dibutuhkan dalam rangka pemecaha masalah.
h.      Mengatur ruangan dan tempat duduk,papan tulis,dan alat-alat bantu yang akan dipergunakan.

B.     Fase Pelaksanaan
Fase ini meliputi :
a.  Pembukaan Diskusi
Dalam pembukaan diskusi yang perlu diperhatikan adalah penciptaan prakondisi sehingga perhatian dan sikap mental peserta digiring dan disipakan agar terkonsentrasi pada hal-hal yang akan dibicarakan dalam diskusi,usaha tersebut dapat berupa :
1)      Membuat outline singkat situasi yang akan didiskusikan.
2)      Mengeluarkan sebuah pendapat atau pertanyaan yang sifatnya dapat merangsang pikiran peserta.
3)      Senantiasa memberikan pertanyaan-pertanyaan pada point-point yang penting yang ada hubungannya dengan masalah yang bersangkutan.
4)      Memberikan ilustrasi, demonstrasi atau bentuk lain yang dapat menarik perhatian peserta.

C.    Pemeliharaan Diskusi
Dalam pemeliharaan ini sebaiknya diterapkan bentuk-bentuk kesepakatan bersama sehingga mendorong peserta untuk berpartisipasi secara aktif.  Pemeliharaan perasaan itu sangat penting yang menyebabkan seseorang merasa dihargai dan diperhatikan serta diikutsertakan sehingga mendorong timbulnya sikap bertanggungjawab, berpartisipasi, dan rasa memiliki. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam fase pemeliharaan ini adalah :
a.       Menjaga peserta agar tidak keluar dari subyek yang bersangkutan.
b.      Membuat pertanyaan-pertanyaan yang menghendaki atau menuntut jawaban dari peserta,dan mempersipakan mereka member alas an-alasan setiap padangan atau pendapat yang mereka ucapkan.
c.       Hindarkan pemunculan topic baru yang belum waktunya muncul,tunggu sampai topik lama diselesaikan.
d.      Bila mungkin hubungkan topic baru dengan topik lama.
e.       Sering-sering membuat rigkasan terhadap bantuan pikiran peserta yang langsung ada hubungnnya dengan diskusi.
f.       Siap-siap dengan komentar atau pertanyaan untuk mengarahlkan kembali jika diskusi itu menuju jalan buntu.
D.    Penutup Diskusi
Agar para peserta menjadi mantap dan tidak merasa mengambang akan hasil diskusinya maka dalam penutupan diskusi segera :
ü Segera dibuatka rangkuman dan  simpulan dari hasil diskusi.
ü Tegaskan bahwa simpulan hasil diskusi merupakan kesepakatan bersama.
Etika dalam Diskusi
Agar diskusi dapat berlangsung dengan baik maka dituntut syarat-syarat sebagai berikut :
a.       Harus berlangsung pada suasana yang terbuka, artinya semua pihak yang terlibat siap/rela menerima dan memberi informasi kepada siapa pun.
b.      Tiap peserta harus berpartisipasi penuh, artinya tiap peserta mengambil bagian dalam proses diskusi,masing-masing menjadi pendengar yang baik dan juga menjadi pembicara yang baik.
c.       Selalu ada bimbingan dan kontrol, artinya ketua senantiasa mengadakan bimbingan dan pengawasan/control agar diskusi tetap berjalan pada arah dan relnya.
d.      Perdebatan harus didasarkan pada argumentasi kontra argumentasi bukan emosi kontra emosi, artinya diskusi yang akan mencari jalan penyelesaian atau kebenaran itu tidak didasarkan atas siapa yang kuat itu yang menang.
e.       Pengajuan pertanyaan harus jelas dan singkat, artinya tidak bertele-tele tetapi menuju sasaran.
f.       Tidak adanya pemborong atau monopoli, diskusi yang baik adalah diskusi yang berlagsung dalam suasan demokratis semua pihak mempunyai hak yang sama baik dalam berbicara maupun dalam mengambil bagian.
11.2 Membaca Tabel,   Grafik, dan Mengubahnya Menjadi Uraian
https://kelasmayaku.files.wordpress.com/2011/02/grafik1.jpg?w=300&h=212
Tabel adalah daftar berisi ikhtisar dari sejumlah fakta dan informasi. Bentuknya berupa kolom-kolom dan baris-baris. Biasanya fakta atau informasi itu hanya berupa nama dan bilangan yang tersusun dalam urutan kolom dan baris. Tabel merupakan alat bantu visual yang berfungsi menjelaskan suatu fakta atau informasi secara singkat, jelas, dan lebih menarik daripada kata-kata. Sajian informasi yang menggunakan tabel lebih mudah dibaca dan disimpulkan.
Grafik merupakan gambar yang terdiri atas garis dan titik-titik koordinat. Dalam grafik terdapat dua jenis garis koordinat, yakni garis koordinat X yang berposisi horisontal dan garis koordinat Y yang vertikal. Pertemuan antara setiap titik X dan Y membentuk baris-baris dan kolom-kolom.
Seperti halnya tabel, grafik merupakan media visual yang sering digunakan untuk memperjelas suatu bacaan. Grafik memungkinkan penyampaian informasi yang kompleks secara lebih mudah. Media ini dapat memberikan gambaran suatu informasi secara jelas, mudah, menarik, dan efektif.
Umumnya grafik digunakan untuk membandingkan jumlah data. Selain itu, digunakan pula untuk menunjukkan fluktuasi suatu perkembangan jumlah, misalnya dalam rentang waktu lima tahun, enam tahun, sepuluh tahun, atau lebih. Dengan grafik, perbandingan serta naik turunnya suatu jumlah data akan lebih jelas.
Langkah membaca tabel dan grafik.
1.      Bacalah judulnya. Membaca judul merupakan kegiatan penting untuk memahami isi pesannya. Resapilah isi judul tabel dan grafik yang Anda hadapi, karena judul memberikan ringkasan yang padat tentang informasi yang akan disampaikan.
2.      Bacalah keterangan yang ada di atas, di bawah atau di sisinya. Keterangan itu merupakan kunci penjelasan tentang data yang disampaikan. Keterangan itu, misalnya dalam bentuk urutan tahun, persentase, atau angka-angka.
3.      Ajukan pertanyaan tentang tujuan tabel dan grafik itu. Caranya mudah. Kalian cukup mengubah judulnya menjadi pertanyaan, misalnya di mana, seberapa banyak, berapa perkembangannya, dan seterusnya. Jawaban pertanyaan tersebut diharapkan ada dalam tabel dan grafik yang Anda hadapi.
4.      Bacalah tabel dan grafik dengan selalu mengingat tujuan Anda, informasi apa yang Anda perlukan.

 12.1 Menulis Karya Tulis Sederhana

http://www.kopertis3.or.id/html/wp-content/uploads/2010/02/ilmiah.jpghttps://jumwidodo.files.wordpress.com/2011/08/karya-e1313590888597.jpg?w=500
Karya tulis adalah suatu karya atau suatu hasil menuangkan gagasan dan perasaan yang disusun secara sistematis dengan aturan penulisan yang jelas.
Ciri-ciri karya ilmiah yang baik di antaranya:
  1. Ditulis dalam bahasa yang baik dan benar, serta tidak menimbulkan salah penafsiran bagi pembacanya
  2. Disertai fakta yang akurat dan meyakinkan
  3. Informasi yang disajikan lengkap
  4. Menarik dan enak dibaca
            Ciri-ciri pokok sebuah makalah adalah objektif, tidak memihak, berdasarkan fakta, sistematis, dan logis. Berdasarkan ciri-ciri tersebut, baik tidaknya suatu makalah dapat dilihat dari kebermaknaan masalah yang dibahas, kejelasan tujuan pembahasan, kelogisan pembahasan, dan keruntutan penulisannya.
            Banyak ragam dan jenis tulisan yang termasuk karya ilmiah, misalnya makalah, artikel penelitian, artikel ilmiah populer, buku, modul, atau buku pelajaran. Bentuk tulisan ilmiah tersebut sering dinamakan karya tulis ilmiah. Sebagai pelajar kalian perlu berlatih berpikir ilmiah seperti itu. Latihan yang akan kalian lakukan, yaitu dengan membuat makalah sebagai salah satu bentuk karya tulis ilmiah.
            Banyak ragam sitematika penulisan karya ilmiah yang dilakukan penulis. Namun pada prinsipnya sama. Di anrata  sitematika penulisannya sebagai berikut : 
a.     Halaman judul
Judul adalah nama karangan. Judul harus sesuai dengan isinya karena judul mencerminkan isi. Judul biasanya berupa kelompok kata (bukan kalimat).
Judul ditulis dengan mempertimbangkan hal-hal berikut:
1)      Dirumuskan secara singkat
2)      Mencerminkan area permasalahan, variabel penelitian dan target populasi
3)      Memuat kata-kata kunci yang akan diacu dalam penelitian
4)      Memisahkan antara judul utama dan judul pelengkap
b.    Kata Pengantar
Dalam kata pengantar dicantumkan ucapan terimakasih penulis yang ditujukan kepada orang-orang, lembaga, organisasi, dan/atau pihak-pihak lain yang telah membantu dalam mempersiapkan, melaksanakan dan menyelesaikan karya ilmiah tersebut. Tulisan kata pengantar dikerik dengan huruf kapital, simetris di batas atas bidang pengetikan dan tanpa tanda titik. teks pada pengantar diketik dengan spasi ganda (2 Spasi). Panjang teks tidak lebih dari dua halaman kertas kuarto. Pada Bagian akhir teks (di pojok kanan-bawah) dicantumkan kata penulis tanpa menyebut nama terang

c.     Daftar Isi
Daftar isi adalah halaman yang memberikan informasi tentang bab, sub bab, sub-sub bab dan bagian-bagian penting lain yang disertai dengan letak halamannya.
d.    Bab I Pendahuluan
1.    Latar Belakang (berisi alasan pemilihan judul)
            Bagian ini menerangkan keternalaran (kerasionalan) mengapa topik yang dinyatakan pada judul karya tulis ilmiah itu diteliti. Untuk menerangkan keternalaran tersebut perlu dijelaskan dulu pengertian topik yang dipilih. Baru kemudian diterangkan argumen yang malatarbelakangi pemilihan topik itu dari sisi substansi dalam keseluruhan sistem substansi yang melingkupi topik itu. Dalam hal ini dapat dikemukakan misalnya adanya kesenjangan antara harapan dan kenyataan, antara teori dan praktek dari konsep dalam topik.
2.      Permasalahan
a)         Identifikasi Masalah
Sebelum masalah dirumuskan perlu diidentifikasi dengan baik. Dengan identifikasi masalah, memungkinkan perumusan masalah yang operasional menjadi lebih mudah. Masalah yang operasional memiliki ciri, antara lain: (a) masalahnya dapat dipecahkan, (b) menggambarkan variabel penelitian yang jelas, (c) bentuk dan jenis data yang diperlukan dapat dipastikan secara akurat, (d) teknik pengumpulan data dapat ditentikan secara tepat, (e) teknik analisis data dapat diterapkan secara tepat.

b)   Perumusan Masalah
Rumusan masalah adalah rumusan persoalan yang perlu dipecahkan atau dipertanyakan yang perlu dijawab dengan penelitian. Perumusan itu sebaiknya disusun dalam bentuk kalimat tanya, atau sekurang-kurangnya mengandung kata-kata yang menyatakan persoalan atau pertanyaan. Yakni apa, siapa, berapa, seberapa, sejauh mana. Bagaimana (bisa tentang cara atau wujud keadaan) di mana, ke mana, dari mana, mengapa dan sebagainya.
3.      Tujuan Penulisan (berisi tujuan yang ingin dicapai dengan memilih judul dan  permasalahan dalam kerja tulis)
4.      Metode Penulisan (berisi teknik/metode pengambilan data dalam penulisan karya tulis, misalnya dengan observasi, wawancara, atau studi pustaka
e. Bab II Kajian Pustaka
            Berisi dasar teori yang berkenaan yang menjadi acuan dalam tulisan tersebut

f.  Bab III Pembahasan (berisi uraian atau pembahasan masalah yang terdapat pada bagian Bab III
     permasalahan)

g. Penutup
            Di dalam bab penutup berisi
1.      Simpulan
Bagian menguraikan keberhasilan metode dikaitkan dengan hasi kerja, dan dampak produk. Penutup merupakan bagian terakhir dari isi pokok laporan penelitian. sesuai dengan isinya, bagian ini dapat dibagi menjadi dua sub-bab yaitu simpulan dan saran.

2.      Saran
Saran merupakan bagian yang berisi temuan jalan keluar dari suatu permasalahan. Saran dikemukakan dengan mengaitkan temuan dalam simpulan dan jika memungkinkan jalan keluarnya juga disampaikan. saran dapat bersifat praktis atau teoritis. Selain itu, perlu juga dikemukakan masalah-masalah baru yang ditemukan dalan penelitian yang memerlukan penelitian lanjutan

Simpulan dan saran dikategorikan baik jika memenuhi syarat sebagai berikut:
a)     Pernyataan mengenai kesimpulan diungkap secara tepat dan akurat tanpa disertai pernyataan baru atau pengantar yang tidak relevan
b)   Simpulan dibuat menurut ruang lingkup generalisasi atas dasar justifikasi data yang disajikan
c)    Simpulan seyogyanya diikuti dengan pertanyaan-pertanyaan baru, berupa saran atai rekomendari bagi penelitian lebih lanjut.
d)   Saran yang dikemukakan bersifat objektif dan disertai langkah-langkah operasional bagi implementasinya.
e)    Saran semata-mata ditujukan pada upaya perbaikan atas kelemahan-kelemahan yang dikemukakan atau berupa rekomendasi aplikasi temuan, berikut langkah-langkah teknisnya.

h. Daftar Pustaka
            Daftar pustaka adalah daftar buku atau referensi yang dijadikan rujukan dalam menulis makalah. Adapun urutan/pola daftar pustaka adalah : nama penulis, tahun terbitnya buku yang dirujuk, judul buku yang dirujuk, kota buku itu diterbitkan, dan nama penerbit yang menerbitkan buku itu.
Teknik penulisan daftar pustaka ialah sebagai berikut:
a)      Nama pengarang dibalikkan atau diputar dengan catatan nama yang dikedepankan, atau nama marga/unsur nama akhir yang dipisahkan oleh koma. Setelah itu, nama pengarang disusun secara alfabetis;
b)      Bila nama pengarang ada dua, yang dibalikkan ialah nama pengarang pertama;
Contoh: Emil Salim dan Philip Kotler menjadi Salim, Emil dan Philip Kotler
c)      Jika nama pengarang ada tiga atau lebih, nama pengarang pertamalah yang diputar dan diikuti oleh dkk. Contoh: Emil Salim, Philip Kotler, Djoemad Tjiptowardojo menjadi Salim, Emil. dkk.
d)     Bila tidak terdapat nama pengarang, nama departemen atau lembagalah yang ditulis; bila tidak ada kedua-duanya, tulislah tanpa pengarang, atau tanpa lembaga;
e)      Gelar akademik pengarang tidak dicantumkan;
f)       Judul buku harus dicetak miring dalam komputer atau digarisbawahi dalam mesin tik atau tulisan tangan;
g)      Judul artikel, skripsi, tesis, atau disertasi yang belum dibukukan diapit oleh tanda petik dua;
h)      Bila ada edisi atau cetakan ditulis sesudah judul buku;
i)        Jika buku tersebut merupakan terjemahan dari buku bahasa asing, penerjemah ditulis sesudah edisi;
j)        Spasi dalam daftar pustaka satu spasi;
k)      Perpindahan dari satu pengarang ke pengarang yang lain dua spasi.
l)        Bila dalam satu buku diperlukan dua baris atau lebih, baris yang kedua atau selanjutnya dimulai dari 1 tabulasi (5-7 ketukan);
m)    Jika seorang pengarang menuliskan lebih dari satu buku, nama pengarang ditulis satu kali; nama pengarang itu diganti dengan garis panjang atau tanpa garis panjang;
n)      Bila ada dua atau lebih karya ilmiah (buku) yang ditulis oleh seorang pengarang, urutan penulisannya berdasarkan tahun terbit.

     Contoh penulisan unsur pustaka acuan yang berupa buku:
      Badudu, J.S. 1993. Inilah Bahasa Indonesoa yang Benar I. Jakarta : PT Gramedia
Djajasudarma, T. Fatimah. 1993. Metode Linguistik: Ancangan Metode Penelitian dan Kajian. Cetakan III.Bandung: Eresco.
Surono. 1981. Ikhtisar Seni Sastra. Solo : Tiga Serangkai
Zaidan dkk. 1981. Kamus Istilah Sastra. Jakarta : Balai Pustaka
  Contoh penulisan unsur pustaka acuan yang majalah/surat kabar:
Simanungkalit, T. 1987. "Demokrasi Kita Masih Belajar di Tingkat Dua". Dalam Prioritas. 4 mei. 2015 Jakarta : halaman 4-5.
Jawa Pos. 22 April, 2014. Wanita Kelas Bawah Lebih Mandiri : halaman 3.

Contoh penulisan unsur pustaka acuan yang dari sumber internet:

Junaedi, Fajar. Agustus 2004. “Berinternet Gratis dengan JUICE” http://www.juiceboosted.com, diakses 25 Mei 2014

Kumaidi. 1998. Pengukuran Bekal Awal Belajar dan Pengembangan Tes. http://www.malang.ac.id , diakses 20 Januari 2014.
































Contoh Kayra Tulis Ilmiah:
Bab I
Pendahuluan
1.1     Latar belakang
Persolan budaya dan karakter bangsa kini menjadi sorotan tajam masyarakat, baik itu melalui media cetak, wawancara, dialog dan lain sebagainya. Persoalan yang muncul di masyarakat seperti korupsi, kekerasan, kejahatan seksual, perusakan yang terjadi dimana-mana, sirkulasi ekonomi yang terhambat serta dunia politik yang menuai pro dan kontra menjadi salah satu topik yang hangat di masyarakat. Berbagai alternatif penyelesaian masalah ini telah dilakukan seperti peraturan, undang-undang, penerapan hukum yang lebih kuat.
Kepedulian masyarakat terhadap pendidikan budaya dan karakter bangsa juga telah menjadi perhatian pemerintah. Pemerintah telah mengembangkan pendidikan budaya dan karakter bangsa ini melalui Departemen Pendidikan Nasional. Karena itulah kami tertarik menjadikan topik ini sebagai bahasan karya ilmiah sederhana yang akan kami tulis.
 1.2    Identifikasi masalah
1.2.1   Peristiwa apa sajakah yang kini marak terjadi sebagai bentuk penyimpangan dari karakter bangsa ?
1.2.2  Apa sebab-sebab terjadinya penyimpangan karakter tersebut ?
1.2.3  Dampak apa saja yang ditimbulkan akibat penyimpangan karakter ini ?
1.2.4  Bagaiman upaya mengurangi atau bahkan menghilangkan penyimpangan karakter tersebut ?
1.3    Rumusan masalah
1.3.1   Bagaimana pengaruh penyimpangan karakter ini pada prestasi siswa ?
 1.4    Tujuan dan manfaat
1.4.1   Mengembangkan kebiasaan dan perilaku anak bangsa yang terpuji dan sejalan dengan karakter bangsa Indonesia.
1.4.2  Menanamkan jiwa kepemimpinan dan tanggung jawab kepada anak bangsa sebagai generasi penerus bangsa.
1.4.3  Mengembangkan sikap mandiri, disiplin,  jujur, kreatif dan berwawasan kebangsaan
 1.5    Metode penelitian
1.5.1   Mengamati kondisi di lapangan
1.5.2  Membaca buku pendukung
Bab II
Pembahasan
2.1 Contoh-contoh perilaku penurunan moral
Ada beberapa peristiwa yang tergolong penyimpangan karakter di negeri ini. Contoh kecil saja, di zaman yang sudah modern ini banyak orang yang lupa beretika, lupa menjaga sopan santun, tak mau saling tolong menolong, tak bertanggung jawab, tidak tahu batas-batas pergaulan dan masih banyak lagi. Hal sekecil itu saja sudah tak terkendali, apalagi hal yang besar.
Realitanya, banyak makelar kasus, penggelapan pajak, korupsi, kejahatan yang dilakukan oleh oknum-oknum tak bertanggung jawab dan yang amat sangat memprihatinkan adalah perilaku remaja Indonesia yang masih berada di usia sekolah. Menurut survey, pada tahun 2008 yang dilakukan di 33 provinsi di Indonesia sekitar 18.000 penduduk Indonesia terjangkit penyakit HIV dan AIDS, 63% remaja melakukan hubungan seksual di luar nikah, 21% diantaranya melakukan aborsi dan sekitar 3,2 juta penduduk Indonesia adalah pemakai narkoba dan 1,1 juta diantaranya adalah pelajar tingkat SMP hingga mahasiswa. Keadaan inilah yang membuat keadaan negeri ini semakin buruk.
 2.2 Sebab-sebab penurunan moral
Orang tua merupakan orang yang paling dekat dengan anak sekaligus orang pertama yang memberikan kasih sayang, bahkan ketika anak itu masih ada dalam kandungan. Contohnya saja seorang ayah mengumandangkan adzan dengan lirih di telinga sang anak ketika ia baru saja dilahirkan, itulah bekal awal untuk mengawali hidup dengan kebaikan. Sedangkan, ketika sang anak hendak tidur, ibulah yang menenangkan atau membacakan dongeng untuknya. Tidak hanya itu, ayah dan ibu juga mengajari putra putrinya berjalan, berbicara dan mulai berkomunikasi dengan orang lain. Dengan begitulah, orang tua memberi bekal utama dalam megendalikan anaknya untuk menjadi anak yang baik.
Namun, kenyataannya ada orang tua yang belum mengerti bagaimana cara mengasuh anak dengan penuh cinta dan kasih sayang. Buktinya, ada saja orang tua yang menitipkan anaknya kepada babby sitter atau pembantu rumah tangga. Sehingga, anak tersebut mendapatkan pendampingan  tumbuh dan berkembang bukan dari orang tua yang sudah berkeahlian mengurus anak dan tidak pula orang tua itu menjadi pendamping terindah ketika anaknya tumbuh. Ada saja alasan yang dijadikan para orang tua untuk memutuskan menitipkan anak kepada babby sitter. Salah satu alasan andalannya adalah karena harus mencari nafkah untuk membiayai anak itu, padatnya jam kerja dan lain sebagainya. Seharusnya tidak begitu. Boleh saja bekerja, tanpa melupakan tugas utama sebagai orang tua.
Ada pepatah bilang, bahwa “segala sesuatu yang ditangani oleh orang yang bukan ahlinya, tunggulah saat kehancurannya.” Berarti harusnya para orang tua harus memiliki kemampuan dalam hal mengurus anak.
Tidak hanya itu, bentuk perlakuan yang diterima anak dari orang tua dan lingkungan, menentukan kualitas kepribadian seorang individu. Seseorang yang memiliki kepribadian lemah karena ia kurang mendapat perhatian penuh dari orang tua, kurang rasa aman, sering dimanjakan. Sebaliknya, seseorang yang memiliki kepribadian yang kuat karena ia telah mendapat perhatian penuh dari orang tua, kehangatan jiwa dan pemberian pengalaman hidup dari orang tuanya.
Peran kedua sebagai seseorang yang mengembangkan karakter anak adalah guru. Sebagai seorang guru, hendaknya memiliki kemampuan dalam mendidik siswanya terutama sering-sering mengecek siswanya. Tidak hanya sekedar menghabiskan bab-bab pada buku pelajaran, sekedar menyampaikan informasi atau mengejar target kurikulum.
Menurut pengakuan salah satu siswa, ada saja penyakit guru yang dapat mempengaruhi proses belajar mengajar di kelas, diantaranya :
  1. Tidak punya selera mengajar
  2. Kurang memperkaya materi (lemah sumber)
  3. Kurang disiplin
  4. Asal masuk kelas
  5. Tidak bisa komputer
  6. Kurang terampil
  7. Asal sampaikan materi, urutan tidak akurat
  8. Di kelas diremehkan anak
Hal yang seperti inilah yang bisa menjadi salah satu penghambatnya.
Peran ketiga adalah masyarakat atau tempat anak itu tinggal atau bermain atau bergaul. Anak bisa terkontaminasi kebiasaan yang buruk akibat pengaruh luar. Sehingga, sedini mungkin orang tua harus bisa menjaga anak-anaknya dari pengaruh luar yang negatif.
2.3 Dampak penurunan moral
2.3.1  Banyak anak berperilaku anarkis
2.3.2 Banyak anak tidak memiliki sikap yang santun terhadap orang lain
2.3.3 Tidak mau tolong menolong dengan sesama
2.3.4 Tidak menghargai sesuatu
2.3.5 Banyak terjadi pemberontakan yang dilakukan anak terhadap orang tuanya
2.3.6 Perubahan gaya hidup, mulai dari nilai-nilai agama, social dan budaya
2.3.7   Jati diri bangsa Indonesia luntur
 2.4 Upaya meminimalisir penurunan moral
2.4.1  Bagi pra orang tua, sebaiknya mulai sekarang belajar bagaimana mengasuh anak yang baik dan benar dengan cara mengikuti parenting education
2.4.1  Lebih memperhatikan anak dan mendampingi anak dalam situasi apapun
2.4.1  Mengutamakan waktu bersama dengan keluarga walaupun jam kerja padat
2.4.1  Bagi para guru, sebaiknya mulai menerapkan proses pembelajaran yang aktif dan menyenangkan serta membantu siswa yang mengalami kesulitan dalam suatu mata pelajaran.
2.4.1  Guru yang menjadi contoh dan panutan di sekolah juga harus dapat memberi contoh yang baik kepada murid-muridnya, seperti berpakaian rapi, berkata sopan, disiplin, perhatian kepada murid dan menjaga kebersihan.
2.4.1  Melakukan kegiatan-kegiatan rutin di sekolah, seperti setiap hari senin melakukan upacar bendera, berdoa sebelum dan sesudah pelajaran, mengucap salam bila bertemu guru atau teman
2.4.1  Mengkoreksi perbuatan yang kurang baik secara spontan, misalnya menegur ketika siswa berteriak-teriak ketika proses pembelajaran berlangsung
2.4.1  Memuji perbuatan tepuji, misalnya memperoleh nilai tinggi, membantu teman atu bahkan memperoleh prestasi dibidang seni atau olahraga
2.4.1  Sekolah sebaiknya mendukung program pendidikan budaya ddan karakter bangsa dalam perwujudan misalnya toilet sekolah yang bersih, bak sampah terletak di berbagai tempat dan kondisi sekolah yang bersih
2.4.1  Kita sendiri sebagai pelajar, hendaknya dapat menyaring hal-hal yang baik menurut kita dan hal-hal yang buruk bagi kita

2.5 Pengaruh penurunan moral terhadap prestasi belajar
Sebuah penelitian yang sangat mengejutkan yang menyangkut kecerdasan seseorang dalam meraih kesuksesan pernah dikemukakan oleh pakar kelas dunia, Daniel Goleman yang menyatakan bahwa “80% kesuksesan seseorang ditentukan oleh kecerdasan emosinya (emotional quotient=eq), sedangkan 20% ditentukan oleh IQnya.” Disinilah pembentukan karakter itu sangat berperan untuk meraih kesuksesan. Jadi dapat disimpulkan bahwa pendidikan karakter dapat dijadikan obat agar terjadi peningkatan prestasi akademik pada siswa.







Bab III
Penutup
3.1 Simpulan
Dari berbagai uraian yang panjang lebar diatas, dapat disimpulkan sebagai berikut :
3.1.1   Di negeri ini sudah jelas terjadi penurunan moral yang cukup memprihatinkan, sehingga seluruh lapisan masyarakat harus bertindak lebih lanjut atas hal ini
3.1.2  Pendidikan budaya dan karakter bangsa ini sangat berpengaruh pada prestasi siswa dan akhlak setiap individu
3.1.3  Orang tua dan guru merupakan orang pertama yang member bekal kepada anak-anak bangsa tentang pendidikan karakter sebelum anak tersebut terjun di masyarakat
3.1.4  Perilaku anak tergantung dari pemberian contoh oleh orang tua terutama dan gurunya
3.1.5  Keadaan lingkungan juga berpengaruh terhadap tumbuh kembang seorang anak bangsa
3.1.6 Pengaruh yang mendasar akibat penurunan moral adalah pesatnya globalisasi
3.2 Saran
Ada beberapa saran yang perlu kami sampaikan untuk kelanjutan penulisan karya ilmiah ini, diantaranya :
3.2.1  Semoga dengan adanya karya ilmiah sederhana yang kami tulis ini dapat memperkaya pendapat pembaca untuk mengembangkan pendidikan karakter pada anak
3.2.2 Dapat dijadikan referensi tentang pendidikan karakter pada anak
 Daftar pustaka
ü Beberapa pendapat siswa
ü Fadjaray, Suhadi. 2012. Character Building Strategies Bercocok Tanam Karakter di Kebun Sanubari Anak. Jakarta: Rahmat Media Press (RAHMA PRESS).










K ENAKALAN REMAJA:PENYEBAB DAN ANTISIPASINYA

BAB I
PENDAHULUAN
1.1    Latar Belakang
Masa kanak-kanak, remaja, dewasa, dan kemudian menjadi tua tidak lebih hanyalah merupakan suatu proses wajar dalam hidup yang berkesinambungan dari tahap-tahap pertumbuhan yang harus dilalui oleh seorang manusia. Setiap masa pertumbuhan memiliki ciri-ciri tersendiri. Masing-masing mempunyai kelebihan dan kekurangan.
Demikian pula dengan masa remaja. Masa remaja sering dianggap sebagai masa yang paling rawan dalam proses kehidupan ini. Masa remaja sering menimbulkan kekhawatiran bagi para orang tua. Padahal bagi remaja, masa ini adalah masa yang paling menyenangkan dalam hidupnya. Oleh karena itu, para orang tua hendaknya berkenan menerima remaja sebagaimana adanya. Jangan terlalu membesar-besarkan perbedaan. Orang tua hendaknya justru menjadi teladan di depan, di tengah membangkitkan semangat, dan di belakang mengawasi segala tindak-tanduk si remaja.
Remaja adalah masa peralihan dari kanak-kanak ke dewasa (Ahmadi, 2006:112). Para ahli pendidikan sependapat bahwa remaja adalah mereka yang berusia antara 13 tahun sampai dengan 18 tahun. Seorang  remaja sudah tidak lagi dapat dikatakan sebagai kanak-kanak, namun ia masih belum cukup matang untuk dapat dikatakan dewasa. Ia sedang mencari pola hidup yang paling sesuai baginya dan ini pun sering dilakukan melalui metode coba-coba walaupun melalui banyak kesalahan.
Kesalahan yang dilakukannya sering menimbulkan kekhawatiran serta perasaan yang tidak menyenangkan bagi lingkungan dan orang tuanya. Kesalahan yang diperbuat para remaja hanya akan menyenangkan teman sebayanya. Hal ini karena mereka memang sama-sama masih dalam masa mencari identitas. Kesalahankesalahan yang menimbulkan kekesalan lingkungan inilah yang sering disebut sebagai kenakalan remaja.
1.2    Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, identifikasi masalah dalam makalah ini adalah :
a.       Hal-hal yang menyebabkan timbulnya kenakalan remaja.
b.      Kiat untuk menangkal agar terhindar dari pengaruh kenakalan remaja.
1.3    Rumusan Masalah
Rumusan masalah dalam makalah ini sebagai berikut.
a.         Hal-hal apa sajakah yang dapat menyebabkan timbulnya kenakalan remaja?
b.         Bagaimanakah kiat untuk menangkal agar terhindar dari pengaruh kenakalan remaja?
1.4    Tujuan Penulisan
Makalah ini dimaksudkan untuk membahas :
a.       Hal-hal yang menyebabkan timbulnya kenakalan remaja
b.      Kiat untuk menangkal agar terhindar dari pengaruh kenakalan remaja.

BAB II
PEMBAHASAN

Hasan (2005:79) mengatakan bahwa masalah kenakalan remaja mulai mendapat perhatian yang khusus sejak dibentuknya suatu peradilan untuk anak-anak nakal tahun 1899 di Amerika Serikat. Dalam pandangan umum, kenakalan anak di bawah umur 13 tahun masih dianggap wajar, sedangkan kenakalan anak di atas usia 18 tahun dianggap merupakan salah satu bentuk kejahatan. Dalam makalah ini hanya akan dibahas kenakalan yang dilakukan oleh para remaja dalam usia 13 sampai dengan 18 tahun.
A.     Penyebab Timbulnya Kenakalan Remaja
Kenakalan remaja dapat ditimbulkan oleh beberapa hal, sebagian di antaranya adalah sebagai berikut.
1.      Pengaruh Kawan Sepermainan
Di kalangan remaja, memiliki banyak kawan merupakan satu bentuk prestasi tersendiri. Makin  banyak kawan, makin tinggi nilai mereka di mata teman-temannya. Apalagi mereka dapat memiliki teman dari kalangan teratas, misalnya anak orang yang paling kaya di kota itu, anak pejabat pemerintah setempat bahkan mungkin pusat atau pun anak orang terpandang lainnya.
Di zaman sekarang, pengaruh kawan bermain ini bukan hanya membanggakan si remaja saja tetapi bahkan juga para orang tuanya. Orang tua juga senang dan bangga kalau anaknya mempunyai teman bergaul dari kalangan tertentu tersebut. Padahal, kebanggaan ini adalah semu sifatnya. Akan tetapi, jika tidak dapat dikendalikan, pergaulan itu akan menimbulkan kekecewaan nantinya. Sebab kawan dari kalangan tertentu pasti juga mempunyai gaya hidup yang tertentu  pula. Apabila si anak akan berusaha mengikuti tetapi tidak mempunyai modal ataupun orang tua tidak mampu memenuhinya maka anak akan menjadi frustrasi. Apabila timbul frustrasi, maka remaja kemudian akan melarikan rasa kekecewaannya itu pada narkotik atau obat terlarang dan lain sebagainya.
Pengaruh kawan ini memang cukup besar dalam membentuk watak dan kepribadian seseorang ketika remaja. Oleh karena itu, para remaja hendaknya berhati-hati dan bijaksana dalam bergaul. Jangan bergaul dengan kawankawan yang tidak benar.
Memiliki teman bergaul yang tidak sesuai, akan banyak menimbulkan masalah bagi orang
tuanya. Untuk menghindari masalah yang akan timbul akibat pergaulan, remaja hendaknya mempunyai teman bergaul yang sesuai. Orang tua pun hendaknya juga memberikan kesibukan dan mempercayakan sebagian tanggung jawab rumah tangga kepada si remaja. Orang tua perlu memberi pengertian yang jelas, sekaligus berilah teladan.
Dengan memberikan tanggung jawab dalam rumah akan dapat mengurangi waktu anak untuk keluyuran yang tidak menentu dan sekaligus dapat melatih anak mengetahui tugas dan kewajiban serta tanggung jawab dalam rumah tangga. Para remaja harus berlatih untuk disiplin serta mampu memecahkan masalah sehari-hari. Mereka dididik untuk mandiri. Selain itu, remaja harus tahu tentang batasan teman yang baik.
Beberapa petunjuk tentang kriteria teman baik adalah sebagai berikut: memberikan perlindungan apabila kita kurang hati-hati. Menjaga barangbarang dan harta kita apabila kita lengah. Memberikan perlindungan apabila kita berada dalam bahaya. Tidak pergi meninggalkan kita apabila kita sedang dalam bahaya dan kesulitan. Membantu sanak keluarga kita.
Sebaliknya, kriteria teman yang tidak baik. Mereka adalah teman yang akan mendorong seseorang untuk menjadi: Penjudi. Orang yang tidak bermoral. Pemabuk. Penipu. Pelanggar hukum.
2.      Pendidikan
Memberikan pendidikan yang sesuai merupakan salah satu tugas orang tua kepada anak. Agar anak dapat memperoleh pendidikan yang sesuai, pilihkanlah sekolah yang bermutu. Adakalanya sekolah yang penanganannya kurang displin sehingga memungkinkan anak untuk berbuat negatif, misalnya banyaknya jam kosong akan memicu anak ramai dan berbuat onar di kelas.
Anak pasti juga mempunyai hobi tertentu. Namun demikian, kadang-kadang hobi akan mengalahkan segalanya, termasuk tanggung jawabnya sebagai pelajar. Padahal tugas utamanya adalah bersekolah, sedangkan hobi adalah kegiatan sampingan yang boleh dilakukan bila tugas utamanya telah selesai dikerjakan. Jika penyaluran hobi salah sasaran, juga akan mengakibatkan berkurangnya pengendalian diri.
3.      Penggunaan Waktu Luang
Kegiatan di masa remaja sering hanya berkisar pada kegiatan sekolah dan seputar usaha menyelesaikan urusan di rumah, selain itu mereka bebas, tidak ada kegiatan. Apabila waktu luang tanpa kegiatan ini terlalu banyak, remaja akan timbul gagasan untuk mengisi waktu luangnya dengan berbagai bentuk kegiatan. Apabila si remaja melakukan kegiatan yang positif, hal ini tidak akan menimbulkan masalah.
Namun demikian, jika ia melakukan kegiatan yang negatif maka lingkungan dapat terganggu. Sering perbuatan negatif ini hanya terdorong rasa iseng saja. Tindakan iseng ini selain untuk mengisi waktu juga tidak jarang dipergunakan para remaja untuk menarik perhatian lingkungannya. Perhatian yang diharapkan dapat berasal dari orang tuanya maupun kawan sepermainannya. Celakanya, kawan sebaya sering menganggap iseng dan berbahaya adalah salah satu bentuk pamer sifat jagoan yang sangat membanggakan, misalnya ngebut tanpa lampu di malam hari, mencuri, merusak, minum-minuman keras, obat bius, dan sebagainya.
Munculnya kegiatan iseng tersebut selain atas inisiatif si remaja sendiri, sering pula karena dorongan teman sepergaulan yang kurang sesuai. Sebab dalam masyarakat, apabila seseorang tidak mengikuti gaya hidup anggota kelompoknya maka ia akan dijauhi oleh lingkungannya. Tindakan pengasingan ini jelas tidak mengenakkan hati si remaja, akhirnya mereka terpaksa mengikuti tindakan kawankawannya. Akhirnya ia terjerumus. Tersesat.
4.      Uang Saku
Orang tua hendaknya memberikan teladan untuk menanamkan pengertian bahwa uang hanya dapat diperoleh dengan kerja dan keringat. Remaja harus belajar menghargai nilai uang. Mereka hendaknya berlatih agar mempunyai sifat tidak suka memboroskan uang tetapi juga tidak terlalu kikir. Anak diajarkan hidup dengan bijaksana dalam mempergunakan uang dengan selalu menggunakan prinsip hidup ‘Jalan tengah’. Budayakan menabung sebagian dari uang sakunya. Menabung bukanlah pengembangan watak kikir, melainkan sebagai bentuk menghargai uang yang didapat dengan kerja dan semangat.
Pemberian uang saku kepada remaja memang tidak dapat dihindarkan. Namun demikian, sebaiknya uang saku diberikan dengan dasar kebijaksanaan. Jangan berlebihan. Uang saku yang diberikan dengan tidak bijaksana akan dapat menimbulkan masalah sebagai berikut.
a.       Anak menjadi boros.
b.      Anak tidak menghargai uang.
c.       Anak malas belajar, sebab mereka pikir tanpa kepandaian pun uang gampang.
5.      Pergaulan Bebas
Pada masa ini, kebebasan bergaul sudah sampai pada tingkat yang mengkhawatirkan. Para remaja dengan bebas dapat bergaul dengan lain jenis. Tidak jarang dijumpai pemandangan di tempat-tempat umum, para remaja saling berangkulan mesra tanpa memperdulikan masyarakat sekitarnya.
Mereka sudah mengenal istilah pacaran sejak awal masa remaja. Pacar, bagi mereka, merupakan salah satu bentuk gengsi yang membanggakan. Oleh karena itu, di kalangan remaja kemudian terjadi persaingan untuk mendapatkan pacar. Sedangkan, pengertian pacaran dalam era globalisasi informasi ini sudah sangat berbeda dengan pengertian pacaran 15 tahun yang lalu. Akibatnya, di zaman ini banyak remaja yang putus sekolah karena hamil.  Oleh karena itu, dalam masa pacaran, anak hendaknya diberi pengarahan tentang idealisme dan kenyataan. Anak hendaknya ditumbuhkan kesadaran bahwa kenyataan sering tidak seperti harapan kita, sebaliknya harapan tidak selalu menjadi kenyataan. Demikian pula dengan pacaran. Keindahan dan kehangatan masa pacaran sesungguhnya tidak akan terus berlangsung selamanya.

B.     Kiat Mengatasi Kenakalan Remaja
Sebagian besar orang tua di zaman sekarang sangat sibuk mencari  nafkah. Mereka sudah tidak mempunyai banyak kesempatan untuk dapat mengikuti terus kemana pun anak-anaknya pergi. Padahal, kenakalan remaja banyak bersumber dari pergaulan. Oleh karena itu, para remaja hendaknya memahami pendidikan hukum, agama, dan sosial. Dengan pendidikan ini kemana saja anak pergi ia akan selalu ingat pesan orang tua dan dapat menjagai dirinya sendiri. Anak menjadi mandiri dan bisa dipercaya, karena dapat mengendalikan dirinya sendiri. Selama seseorang masih memerlukan fihak lain untuk mengendalikan dirinya sendiri, selama itu pula ia akan berpotensi melanggar peraturan bila si pengendali tidak berada di dekatnya. Inti pendidikan dapat dibedakan sebagai berikut.
1.         Malu Berbuat Jahat
Benteng penjaga pertama agar remaja tidak salah langkah dalam hidup ini adalah menumbuhkan rasa malu melakukan perbuatan yang tidak benar atau jahat. Para remaja harus tahu perbedaan dan akibat perbuatan baik dan tidak baik. Perbuatan benar dan tidak benar. Orang tua dan guru memiliki peranan dalam memberikan penjelasan kepada para remaja. Kejelasan orang tua menerangkan hal ini akan dapat menghilangkan keraguan anak dalam mengambil keputusan. Keputusan untuk memilih kebaikan dan meninggalkan kejahatan.
Penjelasan akan hal ini sebaiknya diberikan sejak dini, semakin awal semakin baik. Apabila anak sudah dapat dengan jelas membedakan kebaikan dan keburukan, tahap berikutnya adalah tumbuhkan rasa malu untuk melakukan kejahatan. Kondisikanlah pikiran remaja punya rasa malu, merasa tidak pantas melakukan pelanggaran peraturan masyarakat. Mengkondisikan munculnya rasa malu dapat menggunakan cara seperti ketika orang tua mengenalkan pakaian kepada anak-anaknya. Orang tua selalu berusaha memberikan pakaian yang layak untuk anak-anaknya. Namun demikian, apabila suatu saat anak mengenakan pakaian dengan tidak pantas atau mungkin tersingkap sedikit, orang tua segera membenahinya dan mengatakan, menegaskan bahwa hal itu memalukan.
Sikap itu masih berkenaan dengan masalah pakaian fisik. Pakaian batin pun juga demikian. Orang tua bila mengetahui bahwa anaknya melakukan suatu perbuatan yang tidak pantas maka katakan segera bahwa hal itu memalukan. Kemudian orang tua memberikan saran agar dia tidak mengulangi perbuatan itu lagi. Bila perbuata itu masih diulang, berilah sanksi. Berilah hukuman yang mendidik bila perbuatan itu tetap diulang. Usahakan dengan berbagai cara, agar anak tidak lagi mengulang perbuatan yang tidak baik itu.
2.      Takut Akibat Perbuatan Jahat
Para remaja harus menumbuhkan rasa takut akibat perbuatan jahat. Remaja harus tahu bahwa akibat perbuatan buruk akan berdampak pada remaja itu sendiri, orang tua, keluarganya, serta lingkungannya. Menumbuhkembangkan perasaan malu dan takut melakukan perbuatan yang tidak baik ataupun berbagai bentuk kejahatan inilah yang akan menjadi pengawas setia dalam diri setiap orang, khususnya para remaja. Selama dua puluh empat jam sehari, pengawas ini akan melaksanakan tugasnya. Kemanapun si remaja pergi, ia akan selalu dapat mengingat dan melaksanakan kedua hal sederhana ini. la akan selalu dapat menempatkan dirinya sendiri dalam lingkungan apapun juga sehingga akan mampu membahagiakan dirinya sendiri, orang tua dan lingkungannya. Orang tua sudah tidak akan merasa kuatir lagi menghadapi anak-anaknya yang
beranjak remaja. Orang tua tidak akan ragu lagi menyongsong era globalisasi. Orang tua merasa mantap dengan persiapan mental yang telah diberikan kepada anak-anaknya.
Oleh karena itu, pendidikan anak di masa kecil yang sedemikian rumit tampaknya, akan dapat
dinikmati hasilnya di hari tua.







BAB III
PENUTUP

Remaja memang rawan dengan kenakalan. Kenakalan dapat datang dari berbagai segi, baik dari segi pergaulan, pendidikan, pemanfaatan waktu luang, penghargaan uang, dan perilaku seksual. Oleh karena itu, orang tua, masyarakat, sekolah, dan remaja itu sendiri harus mampu mengendalikan diri untuk menghindari berbuat negatif. Cara yang dilakukan, yaitu menumbuhkan rasa malu berbuat jahat dan takut akibat perbuatan jahat.

Rujukan
Anindyarini, Atikah. 2008. Bahasa Indonesia: SMP/MTs Kelas IX. Jakarta: Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional
“Cara Penulisan Daftar Pustaka”. Januari 2010. http://skripsimahasiswa.blogspot.com/ diakses 19 Februari 2012.
Murniasih, Tri Retno dan Sunardi. 2008. Pelajaran bahasa Indonesia 3: untuk SMP/MTs kelas IX. Jakarta: Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional.
“Teknik Penulisan Karya Ilmiah, Makalah, Tesis, Disertasi”. 2010. http://www.kosmaext2010.com/ diakses 19 Februari 2012.














12.3 Menulis Surat Pembaca tentang Lingkungan Sekolah
Menulis surat pembaca adalah cara baik untuk melibatkan diri dengan topik yang Anda sukai sekaligus memengaruhi opini publik. Memastikan surat Anda dimuat bukan pekerjaan mudah, namun Anda bisa meningkatkan kemungkinan surat tersebut dipilih oleh redaksi dengan mengikuti beberapa panduan dasar. Jika Anda ingin tahu bagaimana cara menulis surat untuk redaksi, ikutilah beberapa langkah berikut.
Surat pembaca ditulis untuk mengungkapkan keingingan tertentu penulisnya. Keinginan itu dapat berbentuk ungkapan ketidakpuasan, protes, usulan, atau bahkan jawaban dari instansi. Untuk itu, kita perlu mengenal macam-macam surat pembaca.

1. Macam-macam surat pembaca
Berdasarkan isinya, surat pembaca memiliki tiga macam bentuk, yaitu pernyataan tidak puas atau protes, pendapat atau usulan, dan jawaban. Berdasarkan sifatnya, surat pembaca memiliki dua bentuk, yaitu resmi dan tidak resmi. Surat pembaca resmi yaitu surat pembaca yang ditulis untuk mewakili suatu instansi. Sedangkan, surat pembaca tak resmi yaitu surat pembaca yang ditulis berdasarkan keinginan pribadi penulisnya.

2. Cara menulis surat pembaca
Menulis surat pembaca dapat dilakukan dengan beberapa tahap sebagai berikut :
a.     Memahami persyaratan atau ketentuan
Setiap media mempunyai ketentuan yang hampir sama untuk memuat surat pembaca yang ditulis pengirimnya. Lihatlah contoh untuk surat kabar Kompas di bawah ini!
Surat untuk Redaksi Yth hendaknya dilengkapi fotokopi KTP/SIM/paspor yang masih berlaku, berikut nomor telepon yang dapat dihubungi. Kompas tidak mengembalikan surat-surat yang diterima.
Sebagai perbandingan, surat kabar Suara Pembaruan juga mempunyai persyaratan pemuatan surat pembaca. Perhatikan kutipan berikut!
Suara pembaca dikirim melalui email opini@suarapembaruan.com atau Faks ke redaksi, disertai alamat lengkap dan fotocopy identitas yang masih berlaku.
b. Menentukan jenis surat pembaca
Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, surat pembaca mempunyai beberapa macam bentuk. Oleh karena itu, pilihlah jenis surat pembaca yang akan kamu gunakan. Apakah berbentuk ungkapan ketidakpuasan, pendapat, atau jawaban.
c.  Mulai menulis  
     Nah, setelah memahami syarat dan jenisnya, kamu kini dapat mulai belajar menulis surat pembaca. Sistematika atau urut-urutan surat pembaca sebagai berikut :
1) Bagian judul
2) Paragraf pembuka
3) Paragraf isi
4) Paragraf penutup
Berikut langkah-langkah yang dapat diikuti saat akan menulis surat pembaca :
1. Tulislah judul surat pembaca
2. Kepada siapa isi surat itu kamu maksudkan
3. Buatlah paragraf pengantar secara naratif atau cerita
4. Sampaikan isi atau pesan secara jelas dan singkat
5. Gunakanlah bahasa yang santun agar tidak secara langsung menyinggung perasaan orang lain
6. Tulislah nama dan identitasmu secara lengkap dengan dilengkapi fotokopi kartu pelajar.

13.1 Perwatakan dan Penokohan

Tokoh adalah pelaku yang mengemban peristiwa dalam cerita rekaan sehingga peristiwa itu menjalin suatu cerita, sedangkan penokohan adalah cara sastrawan menampilkan tokoh (Aminuddin, 1984:85).  Tokoh dalam karya rekaan selalu mempunyai sikap, sifat, tingkah laku, atau watak-watak tertentu. Pemberian watak pada tokoh suatu karya oleh sastrawan disebut perwatakan.
Ditinjau dari peranan dan keterlibatan dalam cerita, tokoh dapat dibedakan atas :
  1. Tokoh primer/utama
  2. Tokoh sekunder/tokoh bawahan
  3. Tokoh komplementer/tokoh tambahan(Sudjiman, 1988:17-20; Sukada, 1987:160; Aminuddin:85-87).
Dilihat dari perkembangan kepribadian tokoh, tokoh dapat dibedakan atas :
  1. Tokoh dinamis adalah tokoh yang kepribadiannya selalu berkembang. Sebagai contoh, tokoh yang semula jujur, karena terpengaruh oleh temannya yang serakah, akhirnya menjadi tokoh yang tidak jujur. Tokoh ini menjadi jujur kembali setelah ia sadar bahwa dengan tidak jujur penyakit jantungnya menjadi parah.
  2. Tokoh statis adalah tokoh yang mempunyai kepribadian tetap.

Bila dilihat dari masalah yang dihadapi tokoh, dapat dibedakan atas  (Aminuddin, 1984:91-92) :
  1. Tokoh yang mempunyai karakter sederhana adalah tokoh yang hanya mempunyai karakter seragam atau tunggal.
  2. Tokoh yang mempunyai karakter kompleks adalah tokoh yang mempunyai karakter beraneka ragam kepribadian, misalnya tokoh yang di mata masyarakat dikenal sebagai orang yang dermawan. Pembela kaum miskin, berusaha mengentaskan kemiskinan, ternyata ia juga menjadi Bandar judi.

Sukada (1987:160) merangkum keempat pembagian di atas menjadi :
  1. Tokoh datar (flat character), yakni tokoh yang sederhana dan bersifat statis.
  2. Tokoh bulat (round character ), yakni tokoh yang memiliki kekompleksan watak dan bersifat dinamis.

Dilihat dari watak yang dimiliki oleh tokoh, dapat dibedakan atas tokoh protagonis dan tokoh antagonis (Aminuddin, 1984:85).
1. Tokoh Protagonis adalah tokoh yang wataknya disukai pembacanya. Biasanya, watak tokoh semacam ini adalah watak yang baik dan positif, seperti dermawan, jujur, rendah hati, pembela, cerdik, pandai, mandiri, dan setia kawan. Dalam kehidupan sehari-hari, jarang ada orang yang mempunyai watak yang seluruhnya baik. Selain kebaikan, orang mempunyai kelemahan. Oleh karena itu, ada juga watak protagonis yang menggambarkan dua sisi kepribadian yang berbeda. Sebagai contoh, ada tokoh yang mempunyai profesi sebagai pencuri. Ia memang jahat, tetapi ia begitu sayang kepada anak dan istrinya sehingga anak dan istrinya juga begitu sayang kepadanya. Contoh berikutnya bisa kita lihat, misalnya, pada tokoh yang dikenal masyarakat sebagai orang yang pelit, padahal dia adalah pemilik panti asuhan itu. Ia berbuat seakan-akan pelit untuk menutupi kedermawanannya. Ia takut tidak ikhlas dalam beramal saleh.
2. Tokoh Antagonis adalah tokoh yang wataknya dibenci pembacanya. Tokoh ini biasanya digambarkan sebagai tokoh yang berwatak buruk dan negative, seperti pendendam, culas, pembohong, menghalalkan segala cara, sombong, iri, suka pamer, dan ambisius. Meskipun demikian, ada juga tokoh-tokoh antagonis yang bercampur dengan sifat-sifat yang baik. Contohnya, tokoh yang jujur, tetapi dengan kejujurannya itu justru mencelakakan temannya; tokoh yang setia kepada negara, padahal negaranya adalah negara penebar kejahatan di dunia; tokoh yang memegang teguh janji, tetapi janji itu diucapkan pada orang yang salah dan berakibat fatal.
            Boulton (dalam Aminuddin, 1984:85) mengungkapkan bahwa cara sastrawan menggambarkan atau memunculkan tokohnya dapat menempuh berbagai cara. Mungkin sastrawan menampilkan tokoh sebagai pelaku yang hanya hidup di alam mimpi, pelaku yang memiliki semangat perjuangan dalam mempertahankan hidupnya, pelaku yang memiliki cara yang sesuai dengan kehidupan manusia yang sebenarnya atau pelaku egois, kacau, dan mementingkan diri sendiri. Dalam cerita fiksi, pelaku dapat berupa manusia atau tokoh makhluk lain yang diberi sifat seperti manusia, misalnya kancil, kucing, kaset, dan sepatu.
            Ada beberapa cara memahami watak tokoh, di antaranya :
  1. Tuturan pengarang terhadap karakteristik pelakunya
  2. Gambaran yang diberikan pengarang lewat gambaran lingkungan  kehidupannya maupun caranya berpakaian
  3. Menunjukkan bagaimana perilakunya
  4. Melihat bagaimana tokoh itu berbicara tentang dirinya sendiri
  5. Memahami bagaimana jalan pikirannya
  6. Melihat bagaimana tokoh lain berbicara dengannya
  7. Melihat bagaimana tokoh lain berbicara tentangnya
  8. Melihat bagaimanakah tokoh-tokoh yang lain itu memberi reaksi terhadapnya
  9. Melihat bagaimana tokoh itu dalam mereaksi tokoh yang lain
Suardi Tasrif (dalam Mochtar Lubis, 1960:18) mengemukakan 7 macam cara melukiskan perwatakan tokoh cerita, yaitu :
  1. Physical description; menggambarkan bentuk lahir dari pelaku cerita.
  2. Portroyal of throught streem of conscious ; pelukisan jalan pikiran atau apa yang terlintas dalam pikiran tokoh.
  3. Reaction to event: penggambaran tentang bagaimana reaksi pelaku terhadap kejadian-kejadian.
  4. Direct auther analysis: menganalisis langsung watak tokoh.
  5. Discussion of environment: pelukisan keadaan sekitar lingkungan pelaku,seperti keadaan kamar yang bisa memberi kesan jorok, dsb.
  6. Rection of others about to character: pelukisan mengenai bagaimana pandangan pelaku lain terhadap tokoh utama.
  7. Conversation of about to character: perbincangan oleh pelaku-pelaku lain terhadap tokoh utama, untuk memberi kesan terhadap tokoh utama.
Cara Pengarang Menggambarkan Karakter tokoh:
1.       Tanggapan tokoh lain
2.       Penggambran langsung
3.       Dialog sang tokoh
4.       Jaln pikiran / tindakan tokoh
5.       Gambaran lingkungan tokoh
Karakterisasi atau Perwatakan atau Penokohan
Sebelum karakter para tokoh itu diisi dengan sifat dan perilaku untuk menampilkan gambarannya secara jelas, terdapat proses yang disebut karakterisasi atau perwatakan atau penokohan. Karakterisasi adalah metode melukiskan watak para tokoh yang terdapat dalam suatu karya fiksi.
Karakterisasi merupakan pola pelukisan image seseorang yang dapat dipandang dari segi fisik, psikis dan sosiologi.
Dari segi fisik, pengarang melukiskan karakter pelaku misalnya, tampang, umur, raut muka, rambut, bibir, hidung, bentuk kepala, warna kulit, dan lain-lain.
Dari segi psikis, pengarang melukiskan karakter pelaku melalui pelukisan gejala-gejala pikiran, perasaan dan kemauannya. Dengan jalan ini pembaca dapat mengetahui bagaimana watak pelaku.
Dari segi sosiologis, pengarang melukiskan watak pelaku melalui lingkungan hidup kemasyarakatan.
Banyak teori atau metode dalam pembentukan karakterisasi ini. Penggambaran tokoh yang digunakan penulis dalam novel biasanya menggunakan Metode Diskursi (metode langsung) dan Metode Dramatis (metode tidak langsung).
Metode Diskurtif (Metode Telling)
Metode Diskurtif atau dengan cara langsung adalah cara yang ditempuh pengarang jika dia menggambarkan perwatakan tokoh-tokoh secara langsung. Sama halnya dengan Metode Diskurtif, ada juga orang menyebutnya Metode Telling, yakni mengandalkan pemaparan watak tokoh dari komentar langsung pengarangnya.
Melalui metode ini keikutsertaan atau turut campurnya pengarang dalam menyajikan perwatakan tokoh sangat terasa, sehingga pembaca memahami dan menghayati perwatakan tokoh berdasarkan paparan pengarang.
Karakterisasi melalui tuturan pengarang memberikan keluasan dan kebebasan kepada pengarang dalam menentukan kisahnya. Pengarang tidak sekadar menggiring perhatian pembaca terhadap komentarnya tentang watak tokoh, tapi juga mencoba membentuk persepsi pembaca tentang tokoh yang dikisahkannya.
Kelemahan dari metode ini adalah mempersempit partisipasi imajinatif pembaca, sedangkan kelebihan metode ini terletak pada kesederhanaan dan ekonomisnya.
Metode pemaparan karakter tokoh yang dilakukan secara langsung oleh pengarang biasanya digunakan dalam kisah-kisah rekaan zaman dulu sehingga pembaca hanya mengandalkan penjelasan yang dilakukan pengarang semata.
Metode karakterisasi melalui tuturan pengarang memberikan keluasan dan kebebasan kepada pengarang dalam menentukan kisahnya. Pengarang berkomentar tentang watak dan kepribadian para tokoh hingga menembus ke dalam pikiran, perasaan dan gejolak batin sang tokoh.
Metode Dramatis atau Metode Showing
Metode Dramatis atau Metode Showing atau dengan cara tidak langsung adalah pelukisan tokoh secara tidak langsung terhadap kualitas tokoh. Pengarang menempatkan diri di luar kisahnya dengan memberikan kesempatan kepada para tokoh lain untuk menampilkan perwatakan mereka melalui dialog percakapan dan tindakan serta tingkah laku tokoh.
Metode Dramatis atau Metode Showing ini mengabaikan kehadiran pengarang, sehingga para tokoh dalam karya sastra dapat menampilkan diri secara langsung melalui tingkah laku mereka.
Pada metode ini, karakterisasi biasanya dilakukan melalui (1) pemberian nama, (2) dialog (lokasi dan situasi percakapan), (3) pemikiran tokoh, (4) pelukisan perasaan tokoh, (5) perbuatan tokoh, (6) pelukisan fisik, (7) pelukisan latar, (8) jatidiri tokoh yang dituju penutur; (9) kualitas mental para tokoh; (10) nada suara (tekanan, dialek, dan kosa kata), (11) tindakan para tokoh, (12) stream of consciousness atau arus kesadaran, (13) pandangan orang atau banyak tokoh terhadap tokoh lain.
Dengan metode ini, karakterisasi dapat melalui penggunaan nama tokoh, penampilan tokoh, dan tuturan pengarang. Penggunaan nama tokoh digunakan untuk memperjelas dan mempertajam perwatakan tokoh serta melukiskan kualitas karakteristik yang membedakannya dengan tokoh lain.
Faktor penampilan para tokoh memegang peranan penting dalam hubungannya dengan karakterisasi. Misalnya, pakaian yang dikenakannya atau bagaimana ekspresinya. Rincian penampilan memperlihatkan kepada pembaca tentang usia, kondisi fisik/kesehatan dan tingkat kesejahteraan si tokoh. Sesungguhnya perwatakan tokoh melalui penampilan tidak dapat disangkal terkait pula kondisi psikologis tokoh dalam cerita rekaan.
Metode perwatakan yang menggunakan penampilan tokoh memberikan kebebasan kepada pengarang untuk mengekspresikan persepsi dan sudut pandangnya. Secara subyektif pengarang bebas menampilkan penampilan para tokoh.

Berikut ini beberapa contoh bagaimana pengarang menggambarkan karakter tokoh:
Dikutip dari novel “Edensor” karya Andrea Hirata
1.       Tanggapan tokoh lain
“Ibumu, perempuan yang keras pendiriannya…
“Kau tahu, Ikal? Tanggal 23 oktober waktu itu, pukul setengah dua belas malam, hujan lebat, sudah satu jam ibumu sakit perut, tapi tak sedikitpun ia mau mengejan.”

2.       Penggambaran langsung
“..taikong Hamim! Haji Marhaban hamim bin Muktamar Aminudin nama lengkapnya, sama sekali bukan guru ngaji yang kejam, bukan sama sekali bukan, tapi ia tak lain manusia terpilih penegar syiar islam, ulam penting penyelamat anak-anak Melayu dari rayuan Iblis..”
3.       Dialog sang tokoh
Taikong hamim:
“ Beri hukuman berat sekalian agar wadudh jera !”
“Bagaimana keputusanmu, Pak Cik?! Apa tindakanmu agar tabiat buruk wadudh tak berulang lagi?!”
“Bagaimana, Pak Cik?
Ayah Ikal:
”Baiklah, Taikong."
“Akan kuganti lagi namanya…”
4.       Jalan pikiran / tindakan tokoh
“...sering aku menyamar memakia mukena sepupuku, menyelinap dalam saf putri, membuata onar, bulan puasa, aku melubangi buku-buku bamboo dengan linggis, kuisi air dan karbit. Lalu kuarahkan kejendela masjid saat seisi kampong tarawih. Gas karbit yang mampat dalam lubang bamboo yang sempit berdentum laksana meriam saat-saat sumbunya ku sulut. Jama’ah kocar-kacir.”

Malamnya aku di dampat ibuku
“Lihat dirimu itu!” bentak ibu. “Inikah sang juru pendamai itu!?
Bikin malu!”

5.       Gambaran Lingkungan  tokoh
….Namun orang Melayu pedalaman seperti kami, nama amat penting, nama berurusan dengan agama dan di anggap sumber aura. Dan itu buktinya, asalnya Dienul islam : agama islam. Jika tabiat anak tak beres, pasti namanya yang pertama di selidik . Kebajikan purba itu di anut oleh ayahku.
Peranan Tokoh-tokoh
Tokoh-tokoh yang ada dalam karya sastra kebanyakan berupa manusia, atau makhluk lain yang mempunyai sifat seperti manusia. Artinya, tokoh cerita itu haruslah hidup secara wajar, mempunyai unsur pikiran atau perasaan yang dapat membentuk tokoh-tokoh fiktif secara meyakinkan sehingga pembaca merasa seolah-olah berhadapan dengan manusia sebenarnya.
Tokoh merupakan pelaku rekaan dalam sebuah cerita fiktif yang memiliki sifat manusia alamiah, dalam arti bahwa tokoh-tokoh itu memiliki “kehidupan” atau berciri “hidup”. Tokoh memiliki derajat lifelikeness (kesepertihidupan). Karena karya fiksi merupakan hasil karya imajinatif atau rekaan, penggambaran watak tokoh cerita pun merupakan sesuatu yang artifisial, yakni merupakan hasil rekaan dari pengarangnya yang dihidupkan dan dikendalikan sendiri oleh pengarangnya.
Pengarang tidak seenaknya menciptakan dunia di luar logika para pembaca. Artinya pengarang memakai nama latar, peristiwa dan tokoh seperti keberadaannya di dunia nyata. Penciptaan tokoh oleh pengarang harus benar-benar seperti manusia.
Tokoh cerita juga menempati posisi strategis sebagai pembawa pesan, amanat, moral, atau sesuatu yang sengaja ingin disampaikan pengarang. Bagaimana penulis menggambarkan karakter tokoh utama dalam novel sehingga watak-watak tokoh sesuai dengan cerita tema, dan amanat yang ingin disampaikan pengarang.
Peristiwa dalam karya fiksi selalu dipengaruhi tokoh-tokoh yang diceritakan dan mengalami kejadian keseharian. Tokoh-tokoh yang diangkat sebagai pelaku jalannya cerita mengalirkan arus dan membawa cerita mulai dari awal, klimaks hingga akhir.
Fungsi tokoh utama sangat penting. Pembaca mengikuti alur cerita karena mengikuti gerak tokoh utama cerita. Setiap pengarang ingin menunjukkan tokoh-tokoh yang ditampilkan dan secara tidak langsung ingin menyampaikan sesuatu dari tokoh-tokoh yang ditampilkannya.
Jadi, tokoh merupakan karakter yang diciptakan pengarang berdasarkan sifat kemanusiaannya. Sebuah cerita tidak mungkin hidup tanpa adanya tokoh pemeran di dalamnya, karena pada dasarnya cerita adalah gerak dan laku dari tokoh. Tanpa ada pelaku yang melakukan perbuatan, segalanya tidak mungkin terjadi.
Peristiwa-peristiwa yang terjadi merupakan akibat dari gerak laku atau aksi tokoh-tokoh dalam cerita. Peristiwa yang dimunculkan pengarang sangat dipengaruhi oleh munculnya tokoh dengan berbagai karakternya.
Tokoh merupakan individu rekaan yang mengalami berbagai peristiwa cerita dan berfungsi sebagai penggerak cerita. Tokoh adalah orang yang mengambil bagian dan mengalami peristiwa, sebagaimana peristiwa yang digambarkan dalam sebuah alur. Dari pengertian tersebut, peranan tokoh sangat berpengaruh dalam perjalanan peristiwa dalam karya fiksi.
Peristiwa dalam kehidupan sehari-hari selalu diemban tokoh-tokoh tertentu. Pelaku
mengemban peristiwa dalam cerita fiksi sehingga peristiwa itu mampu menjalin
suatu cerita melalui tokoh-tokohnya.

13.2 Menjelas Alur dalam Cerita
Macam-macam Alur
Alur atau Plot adalah rangkaian peristiwa dari awal sampai klimaks serta penyelesaian yang dijalin berdasarkan hubungan urutan waktu atau hubungan sebab akibat sehingga membentuk keutuhan cerita. Ada beberapa jenis alur dalam sastra modern, yaitu :
1. Alur Maju (Progesi)
Alur maju (Progesi) adalah sebuah alur yang memiliki klimaks di akhir cerita dan merupakan jalinan/ rangkaian peristiwa dari masa kini ke masa lalu yang berjalan teratur dan berurutan sesuai dengan urutan waktu kejadian dari awal sampai akhir cerita.
2. Alur Mundur (Regresi)
Alur mundur (Regresi) adalah sebuah alur yang menceritakan tentang masa lampau yang memiliki klimaks di awal cerita dan merupakan jalinan/ rangkaian peristiwa dari masa lalu ke masa kini yang disusun tidak sesuai dengan urutan waktu kejadian dari awal sampai akhir cerita.
3. Alur Sorot balik (Flashback)
Alur Sorot balik (Flashback) adalah alur yang terjadi karena pengarang mendahulukan akhir cerita dan setelah itu kembali ke awal cerita. Pengarang bisa memulai cerita dari klimaks kemudian kembali ke awal cerita menuju akhir.
4. Alur Campuran (maju-mundur)
Alur Campuran adalah alur yang diawali klimaks, kemudian melihat lagi masa lampau dan dilanjutkan sampai pada penyelesaian yang menceritakan banyak tokoh utama sehingga cerita yang satu belum selesai kembali ke awal untuk menceritakan tokoh yang lain.• Disebut juga alur Maju - Mundur•
5. Alur Gabungan
Alur Gabungan adalah alur yang merupakan gabungan dari alur maju dan alur mundur.
6. Alur Klimaks
Alur Klimaks adalah alur yang susunan peristiwa menanjak dari peristiwa biasa meningkat menjadi penting yakni lebih menegangkan.
7. Alur Antiklimaks
Alur Antiklimaks adalah alur yang susunan peristiwanya makin menurun dari peristiwa menegangkan kemudian menjadi kendor dan berakhir dengan peristiwa biasa.
8. Alur Kronologis, Alur Kronologis adalah alur yang susunan peristiwanya berjalan sesuai dengan urutan waktu. Dalam alur ini terdapat hitungan jam, menit, detik, hari, dan sebaginya..                       

14.1 Pengertian Drama, Unsur-unsur Drama, Ciri-ciri Drama

Drama berasal dari kata Yunani, draomai yang berarti berbuat, bertindak, bereaksi, dan sebagainya. Jadi, kata drama dapat diartikan sebagai perbuatan atau tindakan. Seraca umum, pengertian drama adalah karya sastra yang ditulis dalam bentuk dialog dengan maksud dipertunjukkan oleh aktor. Pementasan naskah drama dikenal dengan istilah teater. Dapat dikatakan bahwa drama berupa cerita yang diperagakan para pemain di panggung. Selanjutnya, dalam pengertian kita sekarang, yang dimaksud drama adalah cerita yang diperagakan di panggung berdasarkan naskah. Pada umumnya, drama mempunyai dua arti, yaitu drama dalam arti luas dan drama dalam arti sempit. Dalam arti luas, pengertian drama adalah semua bentuk tontonan yang mengandung cerita yang dipertunjukkan di depan orang banyak. Dalam arti sempit, pengertian drama adalah kisah hidup manusia dalam masyarakat yang diproyeksikan ke atas panggung.

Pengertian drama

Drama adalah karangan yang menggambarkan kehidupan dan watak manusia dalam bertingkah laku yang dipentaskan dalam beberapa babak. Seni drama sering disebut seni teater.
http://3.bp.blogspot.com/-VmrYxcql87E/Ul-7OyaF--I/AAAAAAAAAMM/AwUuRDOSa8Y/s200/pengertian+drama.jpg

Sejarah drama sebagai tontonan sudah ada sejak zaman dahulu. Nenek moyang kita sudah memainkan drama sejak ribuan tahun yang lalu. Bukti tertulis yang bisa dipertanggung jawabkan mengungkapkan bahwa drama sudah ada sejak abad kelima SM. Hal ini didasarkan temuan naskah drama kuno di Yunani. Penulisnya Aeschylus yang hidup antara tahun 525-456 SM. Isi lakonnya berupa persembahan untuk memohon kepada dewa-dewa. Sejarah lahirnya drama di Indonesia tidak jauh berbeda dengan kelahiran drama di Yunani. Keberadaan drama di negara kita juga diawali dengan adanya upacara keagamaan yang diselenggarakan oleh para pemuka agama. Intinya, mereka mengucapkan mantra dan doa.
Ada beberapa jenis drama tergantung dasar yang digunakannya. Dalam pembagian jenis drama, biasanya digunakan tiga dasar, yakni: berdasarkan penyajian lakon drama, berdasarkan sarana, dan berdasarkan keberadaan naskah drama.
Berdasarkan penyajian lakon, drama dapat dibedakan menjadi delapan jenis, yaitu:
  1. Tragedi: drama yang penuh dengan kesedihan
  2. Komedi: drama penggeli hati yang penuh dengan kelucuan.
  3. Tragekomedi: perpaduan antara drama tragedi dan komedi.
  4. Opera: drama yang dialognya dinyanyikan dengan diiringi musik.
  5. Melodrama: drama yang dialognya diucapkan dengan diiringi melodi/musik.
  6. Farce: drama yang menyerupai dagelan, tetapi tidak sepenuhnya dagelan.
  7. Tablo: jenis drama yang mengutamakan gerak, para pemainnya tidak mengucapkan dialog, tetapi hanya melakukan gerakan-gerakan.
  8. Pantomim: adalah drama yang ditampilkan dalam bentuk gerakan tubuh atau bahasa isyarat tanpa pembicaraan.
    Sendratari: gabungan antara seni drama dan seni tari.
Berdasarkan sarana pementasannya, pembagian jenis drama dibagi antara lain:
  1. Drama Panggung: drama yang dimainkan oleh para aktor dipanggung.
  2. Drama Radio: drama radio tidak bisa dilihat dan diraba, tetapi hanya bisa didengarkan oleh penikmat.
  3. Drama Televisi: hampir sama dengan drama panggung, hanya bedanya drama televisi tak dapat diraba.
  4. Drama Film: drama film menggunakan layar lebar dan biasanya dipertunjukkan di bioskop.
  5. Drama Wayang: drama yang diiringi pegelaran wayang.
  6. Drama Boneka: para tokoh drama digambarkan dengan boneka yang dimainkan oleh beberapa orang.
Jenis drama selanjutnya adalah, berdasarkan ada atau tidaknya naskah drama. Pembagian jenis drama berdasarkan ini, antara lain:
  1. Drama Tradisional: tontonan drama yang tidak menggunakan naskah. 
  2. Drama Modern: tontonan drama menggunakan naskah.
Drama modern dikelompokkan menjadi dua, yaitu:
  • Drama konvensional (sandiwara) adalah drama yang bertolak dari lakon drama yang disajikan secara konvensional.
  • Drama kontemporer (teater mutakhir) adalah drama yang mendobrak konvensi lama dan penuh dengan pembaharuan, ide-ide baru, gagasan baru, penyajian baru, penggabungan konsep Barat-Timur.



UNSUR-UNSUR DRAMA (TOKOH, LATAR, DAN AMANAT DRAMA)

Unsur-unsur drama
  1.  Tema adalah ide pokok atau gagasan utama sebuah cerita drama
  2. Alur yaitu jalan cerita dari sebuah pertunjukkan drama mulai babak pertama hingga babak terakhir
  3. Tokoh drama atau pelaku drama terdiri dari tokoh utama dan tokoh pembantu. Tokoh utama atau peran utama disebut primadona sedangkan peran pembantu disebut figuran
  4. Watak adalah perilaku yang diperankan oleh tokoh drama. Watak protagonis adalah watak (periku) baik yang diperankan oleh tokoh drama, contohnya : penyabar, kasih sayang, santun, pemberani, pembela yang lemah, baik hati dan sebagainya. Sedangkan watak antagonis adalah watak (perilaku) jahat yang diperankan oleh tokoh drama, contohnya : sifat iri dan dengki, kejam, penindas dan sebagainya
  5. Latar atau setting adalah gambaran tempat, waktu dan situasi peristiwa dalam cerita   drama
  6. Amanat drama adalah pesan yang ingin disampaikan pengarang kepada penonton. Amanat drama atau pesan disampaikan melalui peran para tokoh drama.
g.      Bloking atau Akting
h.      Tata rias

Perhatikan teks drama berikut !

Zaman
Karya   : Sri Kuncoro
                                         Sumber dicopy dari : www.crayonpedia.org/...

Ibu       :   Ayah, sepertinya hujan akan turun. Lihatlah mendung itu gelap sekali. Di   
Ayah    :   Tenanglah Bu. Mereka, ‘kan sudah dewasa.
Ibu       :   Tapi, ‘kan tidak biasanya mereka pulang terlambat. Lagi pula mendung  
Ayah    :   Mereka toh bisa berlindung, jika nanti hujan turun dengan lebat.
Ibu       :   Ah, Ayah selalu begitu!
Ayah    :   Ah, Ibu juga selalu begitu!
                (Keduanya diam, lalu anak ke-2 memasuki pintu panggung)
Ibu       :   Kenapa pulang terlambat, Man? Sudah makan siang, Nak?
Anak 2 :   Sudah Bu. Tadi, ada demo yang menghambat lalu lintas.
Ayah    :   Demo tentang apa dan oleh siapa?
Anak 2 :   Tidak tahu, Ya. Saya tidak peduli demo macam apa dan oleh siapa.
                 (Masuk ke kamar, ganti baju, dan keluar lagi).
Ibu       :   Kau mau kemana lagi, Man?
Anak 2 :   Voli, Bu. Ada latihan di stadion.
Ibu       :   Mendung begitu gelap, kakakmu belum pulang. Carilah dulu!
Anak 2 :   Saya sudah terlambat, Bu. Lagi pula Kakak pasti bisa menjaga diri.
Ibu       :   Hujan akan segera turun. Nanti dia terjebak hujan. Jemputlah dulu!
Anak 2 :   Bu, saya sudah berumur 19 tahun. Jadi, saya rasa, Kakak juga sudah   
Ayah    :   Man, jangan kasar kepada ibumu!
                (Anak 1 mendadak nyelonong masuk dan menghempaskan tubuhnya ke   
Anak 2 :   Tuh, Bu, Putri Cinderela sudah kembali ke istana. Saya pergi dulu!
Anak 1 :   Reseh, lu!
Anak 1 :   Biasalah, Bu, memperjuangkan keadilan.
Ayah    :   Keadilan macam apa?
Anak 1 :   Keadilan bagi rakyat jelata. Sekarang ini, ya, segala kepentingan umum            
Ibu       :   Kau berurusan dengan polisi?
Anak 1 :   Demi keadilan, Bu.
Ibu       :   Jangan macam-macam kamu, ya,!
Anak 1 :   Ibu jangan khawatir. Jangan panik seperti itu!
                mana anak-anak?
                begini dahsyat.
                bukan balita lagi.
                 sofa)
Ibu       :   Dari mana kau, Martha?
                sudah dimanipulasi oleh kepentingan golongan dan orang-orang tertentu.
                Tadi, ya, seandainya  tidak ada bentrok dengan polisi, kami sudah bisa
                menembus gedung yang angkuh itu.
Setelah membaca kutipan naskah di atas maka kita dapat mengetahui  unsur-unsur intrinsiknya, yaitu :
  • Tema             : kehidupan sosial
  • Tokoh            : Ayah, Ibu, Anak 1(Maman), Anak 2 (Martha)
  • Watak tokoh : Ibu berwatak khawatir dan penyayang, Martha berwatak pembela keadilan
  • Amanat         : jika ingin beraktivitas setelah pulang sekolah (kuliah) sebaiknya izin dahulu     kepada orang tua agar mereka tidak khawatir
  • Latar             : Dalam rumah ketika hujan akan turun

 Ciri-ciri Teks Drama :

  1. Seluruh cerita berbentuk dialog, baik tokoh maupun narator. Inilah ciri utama naskah dialog, semua ucapan ditulis dalam teks.
    Contoh :
Suatu hari di sebuah desa terpencil, ada seorang pemuda berpenampilan sederhana. Ia bernama Paijo.
  1. Semua dialog tidak menggunakan tanda petik ("..."). Dialog drama bukan kalimat langsung. Oleh karena itu, naskah drama tidak memakai tanda petik.
    Contoh :
    Fiqi : Kita bisa selesaikan masalah ini.
    Paijo : Sudahlah! Kamu tidak perlu memikirkan ini. Ini bukan masalah yang besar. Jadi kita tidak perlu membincangkan terlalu serius.
  2. Naskah drama dilengkapi petunjuk tertentu yang harus dilakukan tokoh pemerannya. Petunjuk itu ditulis dalam tanda kurung (...) atau dengan memberikan jenis huruf yang berbeda dengan huruf dialog.
    Contoh :
    Fiqi : Sudah! Jangan dilanjutkan lagi perkelahian ini. Sebaiknya kita selesaikan secara dewasa (sambil berwajah serius)
  3. Naskah drama terletak diatas dialog atau disamping kiri dialog.
    Contoh :
    Stark : Saat ini Loki sudah berhasil membuka portal-nya.
    Thor : Saatnya kita beraksi.
    Fiqi: Jangan gegabah, sebaiknya kita membangun strategi dulu Stark.

 W.S. Rendra adalah seorang tokoh drama dari Indonesia

Judul Drama terkenal di dunia dan di Indonesia : "Kaki Palsu"


Ws rendra.jpg
W.S Rendra
Kaki Palsu adalah drama pertamanya, dipentaskan ketika ia di SMP, dan Orang-orang di Tikungan Jalan adalah drama pertamanya yang mendapat penghargaan dan hadiah pertama dari Kantor Wilayah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Yogyakarta. Pada saat itu ia sudah duduk di SMA. Penghargaan itu membuatnya sangat bergairah untuk berkarya. Prof. A. Teeuw, di dalam bukunya, Sastra Indonesia Modern II (1989), berpendapat bahwa dalam sejarah kesusastraan Indonesia modern Rendra tidak termasuk ke dalam salah satu angkatan atau kelompok seperti Angkatan 45, Angkatan '60-an, atau Angkatan '70-an. Dari karya-karyanya terlihat bahwa ia mempunyai kepribadian dan kebebasan sendiri.
Karya-karya Rendra tidak hanya terkenal di dalam negeri, tetapi juga di luar negeri. Banyak karyanya yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa asing, di antaranya bahasa Inggris, Belanda, Jerman, Jepang, dan India.
Profesor Harry Aveling, seorang pakar sastra dari Australia yang besar perhatiannya terhadap kesusastraan Indonesia, telah membicarakan dan menerjemahkan beberapa bagian puisi Rendra dalam tulisannya yang berjudul “A Thematic History of Indonesian Poetry: 1920 to 1974”. Karya Rendra juga dibicarakan oleh seorang pakar sastra dari Jerman bernama Profesor Rainer Carle dalam bentuk disertasi yang berjudul Rendras Gedichtsammlungen (1957—1972): Ein Beitrag Zur Kenntnis der Zeitgenossichen Indonesischen Literatur. Verlag von Dietrich Reimer in Berlin: Hamburg 1977.

Penghargaan yang pernah diraihnya:

  • Hadiah Pertama Sayembara Penulisan Drama dari Bagian Kesenian Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Yogyakarta (1954)
  • Hadiah Sastra Nasional BMKN (1956)
  • Anugerah Seni dari Pemerintah Republik Indonesia (1970)
  • Hadiah Akademi Jakarta (1975)
  • Hadiah Yayasan Buku Utama, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (1976)
  • Penghargaan Adam Malik (1989)
  • The S.E.A. Write Award (1996)
  • Penghargaan Achmad Bakri (2006).

















15.2 Mengidentifikasi Kebiasaan, Adat, dan Etika dalam
        Novel Angkatan 20-30an
Hasil karya sastra merupakan cermin zamannya. Sastra yang diciptakan pada masa sekarang tentu sangat berbeda dengan karya sastra yang diciptakan pada tahun 20-an atau 30-an. Tahun 20-an atau 30-an merupakan masa penjajahan sehingga karya sastra yang dihasilkan menggambarkan kehidupan pada masa penjajahan dengan liku-likunya. Kebiasaan, adat, dan etika yang dilukiskan pun merupakan pelukisan pada masa itu. Dengan demikian kebiasaan, adat, etika, dan pola pikir tokoh-tokohnya tentu berbeda dengan novel yang diciptakan pada sekarang. Namun demikian tentu saja masih banyak juga adat, kebiasaan, etika dan pola pikir masa itu yang masih relevan dengan situasi sekarang. Dengan mendalami kebiasaan, adat, etika, dan pola pikir yang terdapat dalam novel 20- atau 30-an kemudian membandingkan dengan situasi sekarang, kita dapat melihat bagaimana perkembangannya sampai sekarang ini. Hal ini penting dipelajari agar kita mampu mempertahankan nilai-nilai yang baik dan relevan dengan sekarang dan menghindari atau menjauhi kebiasaan, adat, etika, dan pola pikir yang tidak sesuai dengan norma yang berlaku di tengah-tengah masyarakat kita, baik nilai moral, sosial, maupun nilai agama. Itu sebabnya kompetensi dasar ini penting untuk kamu kuasai dengan baik.
Pengertian
Mengidentifikasi =mengenali
Kebiasaan = kegaliban, kelaziman, kerutinan
Adat = budaya, tata cara, aturan
Etika = etiket, akhlak, budi pekerti, tata susila: kesopanan, kesantunan.
Adat dan Kebiasaan dalam Novel Angkatan 20-30an
           Setiap zaman mempunyai adat dan kebiasaannya masing-masing, misalnya dalam cara berpakaian, makan, bertamu, upacara pernikahan, syukuran kelahiran anak, dan sebagainya. Kebiasaan satu masyarakat dapat diketahui dari karya-karya yang diciptakan pada masyarakat itu. Sebagai contoh, perhatikan cuplikan berikut.
Berkali-kali ia bangun dari tidurnya. Lalu, memasang lampu listrik dan menulis surat panjang kepada Corrie. Tapi, dirinya semakin khawatir saja. Maka, dengan tidak berpikir panjang, dibukanyalah lemari pakaiannya. Lalu, diisinya sebuah koper kulit dengan pakaian dan pelbagai barang yang berguna bagi perjalanannya. Hanafi akan berangkat ke Semarang.
Dengan tidak dibacanya lagi, surat itu dibungkusnya, diletakkannya di atas meja beranda muka. Jika ia otak tenang di hati, kemudian dapat pula membaca suratnya itu niscahaya Hanafi akan heran, bagaimanakah keadaan otaknya masa itu. Karena surat amat kacau isinya dan tidak berkentuan ujung pangkalnya.
(Salah Asuhan, Abdul Muis, 1928)
Terdapat beberapa alat teknologi yang dinyatakan dalam cuplikan di atas, yakni lampu listrik, surat, lemari pakaian, dan koper kulit. Dengan demikian, berdasarkan cerita itu, alat-alat seperti lampu listrik dan lemari pakaian sudah dikenal pada tahun 1920-1930an. Hanya saja bentuknya yang mungkin berbeda.
Dari sebuah cerita, kita pun dapat mengenal adat dan kebiasaan satu masyarakat. Seperti tampak dalam cerita tersebut, yaitu:
– Pakaian disimpan dalam lemari
– Bila bepergian (jauh) membawa koper kulit

Kaitan Isi Novel dengan Kehidupan Nyata
           Cerita dalam novel merupakan hasil imajinasi. Meskipun demikian, hal itu tidak lepas dari pengalaman nyata pengarangnya, tidak lepas pula dari adat kebiasaan yang berlaku pada masyarakatnya. Sebagai contoh, perhatikan kembali cuplikan novel Salah Asuhan. Memasang lampu listrik ketika akan menulis surat merupakan peristiwa yang biasa dilakukan ketika malam hari. Begitu pun dengan mengisi koper dari pakaian yang diambil dari dalam lemari, juga merupakan peristiwa yang sering dijumpai dalam kehidupan nyata.
Karakteristik Novel Angkatan 20-30an
             Karya-karya sastra yang lahir pada periode 1920-1930an sering disebut sebagai karya sastra Angkatan Dua Puluhan atau Angkatan Balai Pustaka. Disebut Angkatan Dua Puluhan sebab novel yang pertama kali terbit adalah pada tahun 1920, yakni novel Azab dan Sengsara karya Merari Siregar. Disebut juga Angkatan Balai Pustaka area karya-karyanya banyak yang diterbitkan oleh penerbit Balai Pustaka. Peran Balai Pustaka dalam menghidupkan dan memajukan perkembangan sastra Indonesia memang sangat besar. Penerbitan pertamanya adalah buku novel Azab dan Sengsara dan kemudian berpuluh-puluh novel lain diterbitkan pula termasuk buku-buku sastra daerah.
               Selain disebut Angkatan Balai Pustaka, Angkatan Dua Puluhan disebut juga Angkatan Siti Nurbaya karena novel yang paling laris dan digemari masyarakat pada masa itu adalah novel Siti Nurbaya karangan Marah Rusli.
Novel-novel yang lahir pada periode tersebut memiliki persamaan-persamaan umum, yakni banyak yang bertemakan masalah adat dan kawin paksa. Novel-novel tersebut juga banyak yang berlatar daerah Minangkabau. Hal tersebut karena dipengaruhi oleh latar belakang pengarangnya mayoritas berasal dari daerah Sumatera Barat.
Ciri lainnya dapat dilihat pada cuplikan berikut.
           Pada malam itulah Hanafi baru dapat “menguak” utangnya kepada ibunya, yaitu utang yang kira-kira belum akan langsung terbayar, meskipun ia memperbuat mahligai tinggi bagi ibunya. Hanafi mengakulah sekarang bahwa ibunya bukan orang bodoh, oleh karena itulah timbullah sebab adab dan cinta kepada orang itu. Sebab selamanya itu, ibunya hanya memperturutkan saja segala kehendaknya dengan tidak melakukan kekerasan sekali juga.
(Salah Asuhan, Abdul Muis, 1928)
Novel tersebut diterbitkan oleh Balai Pustaka pada tahun 1928. Dari bahasanya saja tampak bahwa novel tersebut merupakan karya tempo dulu. Banyak kata dan kalimat yang tidak dipahami. Walaupun sama-sama menyatakan hubungan penyebaban, maksud dari kalimat-kalimat itu susah dicerna.
Selain kata-katanya banyak yang telah usang, novel tahun 20-30an sering menggunakan ungkapan-ungkapan yang bersifat klise (sering dipakai). Susunan kata yang sejenis banyak digunakan oleh pengarang-pengarang dalam berbagai karyanya. Kata-kata itu misalnya pada satu hari, tatkala itu, wajahnya bermuram durja, berbagai-bagai kelakuan mereka, wajahnya cantik jelita, dsb.
Ciri lainnya bahwa novel tahun 20-30an banyak yang menggunakan bahasa percakapan sehari-hari. Hal ini berbeda dengan karya-karya pada periode sebelumnya yang bahasanya itu lebih kaku. Perhatikan kutipan berikut.
Hanafi menyesali dirinya tidak berhingga-hingga. Maka ditutupnyalah mukanya dengan kedua belah tangannya, lalu menangis mengisak-isak sambil berseru dalam hatinya. “Oh, Corrie, Corrie istriku! Di manakah engkau sekarang? Lihatlah suamimu menyadari untung, lekaslah kembali, supaya kita menyambung hidup kembali seperti dulu.”
(Salah Asuhan, Abdul Muis, 1928)
Bahasa percakapan sehari-hari dalam cuplikan di atas, antara lain tampak pada perkataan tokoh Hanafi. Kata-kata tersebut merupakan ragam bahasa percakapan. Hal ini terutama pada kata seru oh yang sampai sekarang pun kita sering menggunakannya ketika bercakap-cakap.
Maka dapat disimpulkan bahwa ciri-ciri novel angkatan 20-30an adalah sebagai berikut.
Tema
  : permasalahan adat, romantisme, kawin paksa
Pengarang : berlatar belakang Minangkabau
Bahasa : bersifat klise, percakapan sehari-hari
Mengidentifikasi Kebiasaan, Adat, dan Etika dalam Novel Angkatan 20 – 30-an
Novel-novel di Indonesia sudah terbit sejak tahun 20 – 30-an, tepatnya tahun 1920, yaitu diawali dengan munculnya novel "Azab dan Sengsara" karya Merari Siregar. Setelah kurun waktu tersebut, novel-novel pasti memiliki ciri dan nilai-nilai sejarah yang terkandung dalam karya sastra. Perlu diketahui, sastra Indonesia memiliki periode sastra, yakni:
1. Periode 1920 - 1933 (Angkatan Balai Pustaka)
2. Periode 1933 - 1942 (Angkatan Pujangga Baru)
3. Periode 1942 - 1953 (Angkatan '45)
4. Periode 1957 - 1961
5. Periode 1961 - 1975
6. Periode 1975 - 1980-an (cerita rekaan mutakhir)
Kebiasaan, adat, dan etika dalam novel Angkatan 20 – 30 an.
Seperti yang telah kita ketahui bahwa setiap periode sastra ditulis berdasarkan latar belakang tradisi yang terdapat pada masa itu. Berikut ini ciri-ciri kebiasaan, adat, dan etika dalam novel Angkatan 20 – 30-an.
1.      Problem yang dibahas adalah problem adat, misalnya perkawinan, perceraian, perebutan warisan, dan sebagainya.
2.      Pertentangan antara kaum tua (mewakili adat lama) dengan kaum muda yang terpelajar (mewakili adat kaum muda).
3.      Tema pendidikan sangat menonjol, bahkan pengarang cenderung menggurui pembaca.
4.      Cerita berlatar belakang kedaerahan (didominasi oleh daerah Sumatra).
5.       Tema cerita bersifat romantik.





Dafatr Pustaka

1.      Paranto (1981). Teknik Diskusi dan Aspek-aspek yang Pelu Diperhatiakan Sugeng dalam Pelaksanaanya. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
2.      Sugeng Paranto (1981). Teknik Diskusi dan Aspek-aspek yang Pelu Diperhatiakan dalam Pelaksanaanya. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
3.      Maimudin,Yurmaini,dkk (1980). Metode Diskusi. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
4.      Sugeng Paranto (1981). Teknik Diskusi dan Aspek-aspek yang Pelu Diperhatiakan dalam Pelaksanaanya. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
5.      Maimudin,Yurmaini,dkk (1980). Metode Diskusi. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
6.      Sugeng Paranto (1981). Teknik Diskusi dan Aspek-aspek yang Pelu Diperhatiakan
7.      dalam Pelaksanaanya. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
8.       Maimudin,Yurmaini,dkk (1980). Metode Diskusi. Jakarta: Departemen Pendidikan
9.       Tri Retno Murniasih dan Sunardi. 2008. Pelajaran Bahasa Indonesia untuk SMP/MTs Kelas IX. Jakarta: Pusat Perbukuan Depdiknas. 129-134.
10.  Kosasih dan Restuti. 2008. Mandiri Bahasa Indonesia untuk SMP/MTs Kelas IX. Jakarta: Penerbit Erlangga. 123-130.

0 komentar: